...Saya berharap teknologi tersebut pada waktunya dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih dini untuk mencari pertolongan medis

Tangerang (ANTARA) - Mahasiswi Fakultas Kedokteran, Tiffney Tyara Setyoko, meraih juara pertama program sarjana pemilihan mahasiswa berprestasi (Pilmapres) tingkat nasional setelah menghadirkan teknologi skrining dini keparahan penyakit infeksi yang ditandai demam.

Tiffney di Tangerang, Senin mengatakan dalam gagasan “Smart Febrile Patch”, wearable sensor non-invasif atau perangkat pemantau kesehatan berbasis keringat dirancang untuk membantu skrining dini tingkat keparahan penyakit infeksi yang ditandai dengan demam.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan nyata di masyarakat yakni demam yang merupakan salah satu gejala awal berbagai penyakit infeksi, tetapi masyarakat sering kali tidak memiliki parameter obyektif yang sederhana untuk mengetahui kapan suatu kondisi memerlukan perhatian medis lebih lanjut.

Smart Febrile Patch dirancang untuk mengukur biomarker fisiologis yang dapat membantu memberikan informasi awal mengenai respons inflamasi dan kondisi fisiologis tubuh.

"Saya berharap teknologi tersebut pada waktunya dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih dini untuk mencari pertolongan medis sekaligus mengurangi risiko keterlambatan penanganan dan penggunaan antibiotik secara tidak rasional," kata Tiffney dalam keterangannya.

Baca juga: Mahasiswa Unhas ubah serai dan pandan wangi lawan kutu beras

Mahasiswi pendidikan dokter angkatan 2023 Universitas Pelita Harapan (FK UPH), tersebut mewakili kampus dan LLDIKTI Wilayah III setelah sebelumnya meraih Juara satu Pilmapres tingkat wilayah.

Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti proses seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, 60 mahasiswa melaju ke tingkat nasional dan akhirnya terpilih 19 finalis dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Adapun ajang ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Pada tahap final yang berlangsung pada 4–7 Agustus 2026 lalu, para peserta dinilai bukan hanya berdasarkan prestasi akademik, tetapi juga capaian unggulan, gagasan kreatif dan inovatif, kemampuan analitis, kepemimpinan, komunikasi, wawasan umum, presentasi, wawancara, serta kemampuan berbahasa Inggris.

Menurut Prof. Dr. Eka, Dekan Fakultas Kedokteran UPH mengatakan jika pencapaian Tiffney patut disyukuri bukan semata-mata karena peringkat yang diraih, tetapi karena memperlihatkan arah pendidikan kedokteran yang semakin menghubungkan ilmu pengetahuan dengan riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian Tiffney. Namun bagi kami, yang lebih penting daripada sebuah penghargaan adalah proses pembentukan seorang mahasiswa. Pendidikan kedokteran tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang menguasai ilmu kedokteran. Kami ingin membentuk calon dokter yang mampu berpikir kritis, melakukan riset, berinovasi, berkomunikasi, memimpin, memiliki integritas, dan menggunakan seluruh kemampuan tersebut untuk melayani masyarakat,” ujar Prof. Dr. Eka.

Menurutnya, keberhasilan Tiffney juga mencerminkan pentingnya lingkungan akademik yang memberi mahasiswa kesempatan untuk bertumbuh melampaui ruang kuliah.

“Gagasan Tiffney lahir dari pertemuan antara ilmu kedokteran, penelitian, teknologi, dan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Inilah yang ingin terus kami kembangkan di yakni mahasiswa tidak hanya belajar mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi belajar melihat masalah, bertanya, meneliti, dan mencari solusi," ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa UI kembangkan platform persiapan TOEFL berbasis AI

Baca juga: Mahasiswa Unhas kembangkan solusi sains atasi limbah popok

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.