Yogyakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB Raditya Jati mengatakan penanganan gempa Yogyakarta pada 2006 oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi pembelajaran penting bidang kebencanaan.

Raditya usai bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Senin, mengatakan pembelajaran penting bidang kebencanaan itulah yang membuat BNPB mengundang Gubernur DIY untuk berbagi pengalaman dalam The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) pada 9-10 September 2026.

"Kenapa ini penting? Karena Yogyakarta memiliki pembelajaran yang banyak di bidang kebencanaan. Pembelajaran paling penting adalah 20 tahun gempa Yogyakarta 2006 dan sekarang sudah 2026, sehingga pengalaman beliau (Gubernur DIY) sangat dibutuhkan," katanya.

Menurut Raditya, pada agenda besar terkait kebencanaan di Jakarta itulah BNPB berkeinginan untuk mengusung ide membangun resiliensi bangsa yang dimulai dari pelokalan di masyarakat.

Dia mengatakan, pada dasarnya, untuk membangun resiliensi bangsa harus dimulai dari masyarakat sebagai people centered approach. Karena itu, BNPB juga menggelar seminar pendahuluan di Yogyakarta terkait peran dari lokal menuju penguatan ketahanan masyarakat hingga level nasional.

Baca juga: BNPB: 20 tahun gempa Yogyakarta jadi momentum perkuat mitigasi bencana

"Selanjutnya, bersama Ngarsa Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) kami juga membahas bagaimana mengangkat konsep sustainable resilience di mata dunia. Konsep ini sudah pernah diusung Indonesia pada 2022, saat Indonesia menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction," katanya.

Dia mengatakan, tema sustainable resilience diusung untuk menjadi ide yang menjadi perhatian dunia karena semua hal dapat masuk ke tema tersebut, mulai dari resiliensi bencana, perubahan iklim, infrastruktur, resiliensi masyarakat, pembiayaan risiko, dan sebagainya.

Upaya sustainable resilience tersebut nantinya akan membuka sektor-sektor lain agar setiap sektor tidak bekerja sendiri-sendiri.

"Kita lihat kejadian bencana saat ini juga tidak hanya karena alam saja faktornya, tetapi juga karena perubahan iklim yang berdampak pada bencana, dan bencana bisa berdampak pada pembangunan, termasuk bagi lingkungan masyarakat," katanya.

Raditya mengatakan, terdapat lima pilar utama dalam mewujudkan resiliensi berkelanjutan, yaitu tata kelola yang baik, investasi berkelanjutan, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan infrastruktur yang tangguh, serta partisipasi aktif masyarakat.

Baca juga: DIY dilanda 2.202 kali gempa bumi dalam setahun

Dia juga mengatakan, Indonesia tengah mempersiapkan Kerangka Nusantara untuk resiliensi berkelanjutan, sekaligus mengajukan diri sebagai tuan rumah Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana tahun 2030.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.