Jakarta (ANTARA) - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah membuka peluang investasi dalam pengembangan jaringan perkeretaapian nasional, terutama untuk mendukung angkutan logistik melalui pengembangan lintas di Sumatera hingga Kalimantan.
"Kalau ada negara lain yang berminat, kami sangat dengan senang hati dan terbuka," kata Menhub ditemui usai peluncuran sistem sistem Electronic Traffic Law Enforcement Hub (ETLE Hub) di Jakarta, Senin.
Dudy menyatakan pemerintah membuka peluang seluas-luasnya bagi investor baik di dalam negeri maupun luar, dalam pengembangan jaringan perkeretaapian nasional guna memperkuat konektivitas logistik serta mendukung pertumbuhan ekonomi berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, pengembangan jalur kereta diarahkan pada lintasan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengembangan kawasan, sehingga pembahasannya dilakukan bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Baca juga: Peletakan batu pertama infrastruktur kereta di Bali dijadwal September
"Ah, ini kita sedang bahas nanti dengan Bappenas. Nanti kita akan duduk bersama dengan para investor, trase-trase mana saja yang bisa kita kembangkan baik di Sumatera maupun Kalimantan," ujarnya.
Dudy menjelaskan penentuan jalur mempertimbangkan potensi ekonomi wilayah, kebutuhan transportasi, serta dukungan terhadap pengembangan kawasan agar investasi yang dilakukan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Terkait kemungkinan jalur kereta terhubung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), Dudy menyatakan pemerintah masih melakukan kajian sehingga belum dapat memastikan rute yang akan dikembangkan pada tahap mendatang. "Nanti kita lihat," katanya.
Sementara itu, terkait kebutuhan investasi, pihaknya juga belum dapat menghitung karena bergantung pada panjang lintasan, jenis kereta yang digunakan, karakteristik jalur, serta berbagai aspek teknis yang masih dikaji pemerintah.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.