Transformasi hijau tidak boleh lagi dipandang semata sebagai agenda lingkungan, melainkan sebagai strategi peningkatan produktivitas dan daya saing usaha

Jakarta (ANTARA) - Bagi pelaku usaha, menjadi "hijau" ternyata belum tentu menghasilkan lebih banyak cuan.

Satu hal krusial yang patut dipertanyakan: Setelah mereka memakai kemasan ramah lingkungan, menghemat listrik, atau mengurangi limbah produksi, apa dampak nyatanya terhadap omzet dan laba?

Pertanyaan ini sangat mendasar, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi mereka, transformasi hijau hanya akan relevan jika dan hanya jika manfaat ekologisnya dapat dikonversi menjadi profit nyata.

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika lanskap perdagangan global mulai berubah. Kini, banyak perusahaan multinasional dan pembeli internasional tidak lagi hanya menilai kualitas dan harga produk, tetapi juga memperhatikan bagaimana produk tersebut diproduksi.

Jejak karbon, efisiensi energi, penggunaan bahan baku yang berkelanjutan, hingga pengelolaan limbah perlahan menjadi bagian dari pertimbangan bisnis.

Keberlanjutan bukan lagi sekadar isu etika, melainkan bahasa baru dalam perdagangan internasional. Persoalannya, bagaimana UMKM Indonesia dapat mengubah jargon hijau itu menjadi keuntungan yang benar-benar tercermin dalam neraca usahanya.

Di sinilah tantangan terbesar ekonomi hijau Indonesia di ranah UMKM. Yang masih perlu penguatan adalah mekanisme yang mampu menghubungkan praktik hijau dengan insentif ekonomi yang nyata.

Karena itu, yang perlu dilakukan saat ini bukan berlomba “menghijaukan” UMKM secara masif, melainkan upaya membuktikan bahwa praktik hijau yang telah dilakukan benar-benar menciptakan nilai tambah riil.

Dalam konteks inilah pengukuran hijau menjadi sangat penting. Ungkapan Peter Drucker, what gets measured gets managed (yang dapat diukur, dapat dikelola -RED), menemukan relevansinya. Sulit memperbaiki sesuatu yang bahkan belum pernah diukur.

Kehadiran Kalkulator Hijau Versi 2.0 yang diluncurkan Bank Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional pada Mei 2026 menjadi salah satu instrumen yang patut diapresiasi. Pasalnya, ia membantu pelaku UMKM mengidentifikasi sumber emisi dari aktivitas usahanya secara lebih sederhana.

Namun, nilai terbesar instrumen tersebut bukan sekadar menghasilkan angka emisi karbon. Yang jauh lebih penting adalah mengubah cerita mengenai praktik hijau menjadi data yang dapat dipercaya.

Di era ekonomi berkelanjutan, data emisi perlahan akan memiliki fungsi yang menyerupai laporan keuangan, menjadi bahasa yang dipahami pembeli, investor, maupun lembaga keuangan dalam menilai kualitas sebuah usaha.

Kemampuan mengukur

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.