Jakarta (ANTARA) - Pernah merasa dulu punya banyak teman, tetapi semakin bertambah usia justru hanya beberapa orang yang masih rutin diajak ngobrol atau bertemu?
Kondisi seperti ini cukup umum terjadi. Saat masih sekolah atau kuliah, rasanya mudah untuk memiliki banyak teman karena hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama. Ada teman sekelas, teman organisasi, teman satu komunitas, sampai kenalan dari berbagai kegiatan.
Namun, ketika mulai memasuki fase dewasa, keadaan perlahan berubah. Kesibukan meningkat, tempat tinggal bisa berbeda, pekerjaan atau pendidikan menyita waktu, dan prioritas hidup pun mulai berubah.
Akibatnya, lingkar pertemanan yang dulu terasa besar bisa menjadi lebih kecil.
Menariknya, perubahan tersebut tidak selalu berarti hubungan sosial menjadi lebih buruk. Penelitian tentang perkembangan jaringan sosial menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang cenderung menjadi lebih selektif dalam memilih hubungan yang ingin dipertahankan. Hubungan yang lebih dekat dan bermakna cenderung mendapat perhatian lebih besar dibandingkan hubungan yang sifatnya lebih jauh.
Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?
Baca juga: Kiat membangun keterampilan interaksi sosial yang positif bagi anak
Baca juga: Enam tipe teman yang harus dihindari
1. Prioritas hidup mulai berubah
Ketika masih muda, memiliki banyak teman bisa terasa penting. Bertemu orang baru, memperluas pergaulan, dan mendapatkan pengalaman dari berbagai lingkungan menjadi bagian dari proses mengenal diri sendiri.
Seiring bertambahnya usia, prioritas tersebut dapat berubah.
Seseorang mungkin mulai lebih fokus pada pendidikan, pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau tujuan pribadi. Waktu yang tersedia untuk bersosialisasi pun tidak sebanyak sebelumnya.
Dalam Socioemotional Selectivity Theory, perubahan tujuan hidup tersebut menjadi salah satu alasan seseorang semakin selektif dalam menentukan hubungan sosial yang ingin dipertahankan.
2. Waktu untuk bertemu tidak sebanyak dulu
Dulu, bertemu teman mungkin cukup dilakukan dengan masuk kelas atau mengikuti kegiatan yang sama.
Ketika sudah dewasa, situasinya berbeda. Ada yang bekerja dengan jadwal berbeda, melanjutkan pendidikan di tempat lain, pindah kota, atau memiliki kesibukan masing-masing.
Bahkan teman yang tinggal di kota yang sama belum tentu bisa bertemu setiap minggu.
Jarak dan keterbatasan waktu akhirnya membuat seseorang lebih memilih menjaga hubungan dengan beberapa teman yang memang dianggap dekat.
3. Tidak semua hubungan perlu dipertahankan dengan intensitas yang sama
Semakin dewasa, seseorang juga bisa mulai memahami bahwa setiap hubungan memiliki tingkat kedekatan yang berbeda.
Ada teman yang hanya cocok diajak membahas pekerjaan. Ada yang lebih cocok untuk berbagi cerita pribadi. Ada pula yang tetap dianggap teman baik meskipun jarang bertemu.
Artinya, lingkar yang mengecil bukan berarti semua hubungan harus hilang. Sebagian hubungan hanya berubah bentuk dan intensitas.
Penelitian menunjukkan bahwa penyusutan jaringan sosial pada masa dewasa terutama terjadi pada hubungan yang lebih perifer, sementara jumlah hubungan yang dekat cenderung lebih stabil.
Baca juga: Jauhi depresi, cari lingkungan pertemanan sehat dan kuatkan diri
4. Mulai lebih menghargai kualitas daripada kuantitas
Ketika masih berada di lingkungan sekolah atau kampus, memiliki banyak teman mungkin terasa menyenangkan.
Namun, seiring bertambahnya usia, seseorang bisa mulai menyadari bahwa jumlah teman tidak selalu menentukan kualitas kehidupan sosial.
Memiliki beberapa teman yang bisa dipercaya, saling mendukung, dan nyaman diajak berbicara bisa terasa lebih berarti daripada memiliki banyak kenalan tetapi jarang memiliki hubungan yang mendalam.
Studi mengenai jaringan sosial daring juga menemukan bahwa kelompok pertemanan yang lebih kecil pada orang yang lebih tua cenderung memiliki proporsi hubungan yang dianggap sebagai teman sebenarnya lebih besar dibandingkan jaringan yang lebih luas pada kelompok usia lebih muda.
5. Mulai tahu hubungan seperti apa yang cocok
Bertambah dewasa biasanya juga membuat seseorang semakin mengenal dirinya sendiri.
Hal-hal yang dulu dianggap penting dalam pertemanan mungkin tidak lagi menjadi prioritas. Sebaliknya, seseorang mungkin mulai mencari teman yang memiliki nilai, cara berkomunikasi, atau cara menghargai batas pribadi yang lebih sesuai.
Proses tersebut secara alami dapat membuat seseorang menjadi lebih selektif.
Bukan karena merasa lebih baik dari orang lain, tetapi karena waktu dan energi terbatas sehingga ingin digunakan untuk hubungan yang benar-benar terasa berarti.
6. Lingkungan sosial tidak lagi selalu mempertemukan orang yang sama
Saat sekolah, seseorang bisa bertemu teman yang sama hampir setiap hari.
Begitu memasuki fase berikutnya, kesempatan tersebut semakin berkurang. Teman bisa berpindah tempat, berganti pekerjaan, melanjutkan pendidikan, atau memiliki rutinitas yang berbeda.
Penelitian terhadap orang dewasa muda juga menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat membuat jaringan pertemanan berkembang sekaligus mengalami kehilangan beberapa hubungan lama. Hubungan yang lebih dekat cenderung lebih dipertahankan, sedangkan hubungan yang lebih jauh lebih mudah berkurang.
Baca juga: Psikolog: Orang introver butuh lebih banyak ruang dalam pertemanan
7. Energi sosial mulai lebih selektif
Bersosialisasi membutuhkan waktu dan energi.
Ketika jadwal semakin padat, seseorang mungkin tidak lagi memiliki keinginan untuk menghadiri setiap acara atau bertemu semua orang.
Bukan berarti menjadi antisosial. Hanya saja, ada kecenderungan untuk memilih kegiatan dan orang yang memang ingin ditemui.
Karena itu, tidak perlu merasa bersalah ketika sesekali memilih menghabiskan waktu dengan beberapa teman dekat dibandingkan berada di tengah keramaian.
Lingkar pertemanan kecil bukan berarti kesepian
Hal yang perlu dibedakan adalah lingkar kecil dengan isolasi sosial.
Memiliki sedikit teman tidak otomatis berarti seseorang kesepian. Begitu juga memiliki banyak teman tidak menjamin seseorang merasa dekat atau didukung.
Yang lebih penting adalah kualitas hubungan tersebut.
Penelitian mengenai perubahan jaringan sosial sepanjang masa dewasa menemukan bahwa semakin kecilnya jaringan terutama terjadi pada hubungan yang kurang dekat, sementara hubungan yang lebih bermakna cenderung dipertahankan. Pola ini juga dikaitkan dengan pengalaman emosional yang lebih positif pada usia yang lebih tua.
Namun, menjaga hubungan sosial tetap penting. Jaringan yang terlalu terbatas juga dapat memiliki konsekuensi, sehingga mengecilnya lingkar pertemanan bukan sesuatu yang perlu dikejar atau dianggap sebagai tanda kedewasaan.
Tidak perlu memaksakan lingkar pertemanan tetap besar
Pada akhirnya, perubahan lingkar pertemanan merupakan bagian yang cukup wajar dari perjalanan hidup.
Ada teman yang tetap bertahan selama bertahun-tahun, ada yang hanya hadir pada fase tertentu, dan ada pula hubungan yang kembali dekat setelah lama tidak berkomunikasi.
Semua itu tidak selalu berarti hubungan sebelumnya gagal.
Semakin dewasa, seseorang memang bisa menjadi lebih selektif dalam menggunakan waktu dan energinya. Yang terpenting bukan berapa banyak orang yang ada dalam lingkar pertemanan, tetapi apakah hubungan tersebut memberikan ruang untuk saling menghargai, mendukung, dan menjadi diri sendiri.
Jadi, kalau suatu hari Anda menyadari bahwa lingkar pertemanan semakin kecil, tidak perlu langsung menganggap diri semakin jauh dari kehidupan sosial.
Bisa jadi, Anda hanya sedang memasuki fase ketika kualitas hubungan terasa lebih penting daripada jumlahnya.
Baca juga: Studi: Mayoritas remaja AS telah jajal hubungan pertemanan berbasis AI
Baca juga: Kiat menjaga hubungan pertemanan di tengah perbedaan pandangan
Baca juga: Kiat bantu anak mempunyai lingkungan pertemanan yang positif
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.