Jakarta (ANTARA) - Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan pasar domestik dipenuhi produk-produk impor, sehingga menciptakan tantangan bagi UMKM lokal.
“Pasar domestik kita dipenuhi dengan produk-produk impor, maka yang diberi pembiayaan (untuk UMKM lokal) seperti apapun, didorong akses pendidikan seperti apapun, tapi pada saat sama pasarnya gak bisa kita sterilisasi (dari produk-produk impor), mereka (UMKM lokal) akan mati dengan sendirinya,” ujar Maman dalam UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa.
Selama dua tahun terakhir, grafik pertumbuhan pembiayaan kepada UMKM selalu meningkat dari tahun ke tahun dengan nominal akses pembiayaan sekitar Rp1.500 triliun dari total sekitar 56 juta UMKM. Namun, sebagian pihak disebut mempertanyakan mengapa pertumbuhan ini belum mampu mendukung sektor ekonomi secara signifikan di beberapa daerah.
Setelah pihaknya meneliti lebih jauh, kata dia, rupanya penyebab mengapa UMKM lokal belum mampu berdampak besar meski sudah diberikan modal hingga pelatihan guna mendorong peningkatan kapasitas produksi yaitu maraknya produk impor di pasar domestik.
Baca juga: OJK tempatkan penguatan ekosistem UMKM sebagai program utama
“Kita juga bukan berarti anti terhadap produk impor, ini tetapi pada saat kita mendorong produk-produk impor masuk ke pasar domestik, itu harus dilihat juga dengan kekuatan produksi barang domestik kita,” kata Maman.
Dalam bahasa lain, apabila terdapat UMKM yang mampu memproduksi barang-barang tertentu yang biasa diimpor, maka perlu dibuat perimbangan agar produk dari luar negeri bisa dibatasi.
Dia juga mengharapkan pelaku UMKM dapat menjual barang-barang mereka seiring potensi peningkatan akses pembiayaan, bukan justru mengalami kredit macet yang dapat berujung pada problem sosial.
“Kalau yang datang ke bank itu cuma urusan kredit macet, tapi kalau UMKM datang ke Kementerian UMKM urusannya problem sosial (seperti) berkelahi sama istrinya, segala macam, akhirnya problem sosialnya jadi kemana-mana,” ucapnya.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.