Kita juga belum ada buku yang bestseller, (saya) gak tahu bestseller Indonesia tentang psikologi model Atomic Habits gitu ya apa (buku Think and) Grow Rich gitu kan ya, itu yang legend-legend

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menantang pakar psikologi Indonesia untuk menyusun buku pengembangan diri berlandaskan ilmu psikologi yang dikemas ringan, komunikatif, dan menarik, bagi Generasi Z seperti buku berjudul "Atomic Habits".

"Saya sendiri punya pandangan psikologi ini bidang yang diperlukan oleh semua orang sebenarnya ya, kan kapasitas diri, pengembangan diri itu kan semuanya untuk psikologi. Buku-buku (seperti) Atomic Habits gitu kan itu sebenarnya untuk psikologi ya, bagi saya itu ilmu-ilmu yang perlu dibangun," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam Seminar Nasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bersama AP2TPI dan HIMPSI di Jakarta, Selasa.

Mendiktisaintek menilai inovasi pendekatan psikologis yang merakyat sangat dibutuhkan saat ini, mengingat masih kuatnya stigma negatif di kalangan mahasiswa apabila mereka harus berkonsultasi secara tatap muka dengan profesional.

"Karena memang bapak/ibu sekalian, apalagi di kampus ya, mahasiswa itu kalau sudah datang ke ruang psikolog ya atau ruang BK itu wah masalah tuh gitu kan ya takut, jadi mahasiswa juga malu-malu," ucap Mendiktisaintek yang pernah menjabat Direktur Kemahasiswaan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca juga: Wamenkes sebut adaptasi penting guna jaga kesehatan mental mahasiswa

Sebagai solusi atas hambatan rasa malu tersebut, Mendiktisaintek mendorong penyebaran literasi yang mudah diakses. Ia meyakini prinsip-prinsip psikologi sejatinya sangat relevan untuk dikonsumsi harian dalam membentuk kapasitas diri.

Namun sayangnya, lanjut dia, ketersediaan buku-buku psikologi karya penulis lokal yang dikemas secara menghibur namun berbobot dinilai masih sangat minim, sehingga pembaca Indonesia lebih banyak mengonsumsi literatur terjemahan.

"Kita juga belum ada buku yang bestseller, (saya) gak tahu bestseller Indonesia tentang psikologi model Atomic Habits gitu ya apa (buku Think and) Grow Rich gitu kan ya, itu yang legend-legend. Nah itu mungkin perlu kita munculkan bapak/ibu sekalian," ujar Menteri Brian.

Menurut Brian, buku untuk Gen-Z tidak boleh menggunakan format layaknya diktat kuliah pengantar ilmu psikologi yang berat, melainkan harus berupa panduan sukses karier atau kepemimpinan transformatif yang aplikatif.

Baca juga: Motivator Ridwan Mukri luncurkan buku tes kepribadian

Guna memacu semangat penulisan tersebut, ia secara khusus melontarkan gagasan kepada Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk menyelenggarakan kompetisi pembuatan buku.

"Nah ini mungkin nitip ke HIMPSI mungkin bisa diadakan ini pak, lomba, sayembara, penyusunan buku (psikologi) untuk Gen-Z begitu ya, tentang psikologi tapi bukan pengantar ilmu psikologi," ucap Mendiktisaintek.

Target utama dari buku-buku ringan tersebut adalah inklusivitas, dimana seluruh lapisan masyarakat, khususnya kalangan remaja dan mahasiswa, dapat mempelajari ketahanan mental secara santai.

Melalui pendekatan literasi psikologi yang populer tersebut, Menteri Brian berharap Gen Z tidak lagi rapuh dalam menghadapi tekanan sosial maupun akademis, serta mampu membangun kapasitas diri mereka secara mandiri dan optimis.

Baca juga: Buku "Pulih dari Trauma" hilangkan persepsi trauma tanda kelemahan

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.