produk kerajinan dari daerah ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya berbasis bambu dan mendong, tetapi juga mencakup produk kayu
Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) membidik Kawasan Priangan, Jawa Barat (Jabar), sebagai sentra produksi dan kekuatan baru ekspor industri kerajinan melalui penguatan daya saing, peningkatan kualitas produk serta perluasan akses pasar global.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai basis industri kerajinan berorientasi ekspor.
Menurut dia dalam pernyataan dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa, potensi tersebut didukung oleh kekayaan material, talenta produksi, serta keterampilan handmade yang telah berkembang secara turun-temurun.
Menurut dia, pengembangan kawasan ini sebagai sentra ekspor industri kerajinan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan produksi. Kawasan tersebut perlu diperkuat melalui pembangunan identitas produk, pemenuhan standar kualitas, kepastian pasokan, serta peningkatan profesionalisme agar sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
Ia menjelaskan produk kerajinan dari daerah ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya berbasis bambu dan mendong, tetapi juga mencakup produk kayu.
Abdul Sobur menegaskan keberagaman material menjadi peluang bagi industri kerajinan daerah untuk masuk ke pasar global. Namun, kualitas produk tetap menjadi faktor utama agar mampu bersaing di pasar kelas dunia.
Baca juga: HIMKI yakin pendidikan vokasi jadi investasi pacu daya saing industri
Baca juga: HIMKI yakin penguatan iklim usaha akselerasi RI jadi negara maju
Untuk memperkuat posisi kawasan ini dalam rantai ekspor industri kerajinan nasional, HIMKI mendorong pelaku usaha setempat meningkatkan kapasitas bisnis dari sekadar subkontraktor menuju perusahaan yang memiliki kemampuan Original Equipment Manufacturer (OEM), Original Design Manufacturer (ODM), hingga membangun merek sendiri.
Sebagai langkah awal, HIMKI mendorong pemetaan sebanyak 30–50 perusahaan potensial di daerah ini yang selanjutnya akan dikurasi menjadi sekitar 20 calon eksportir dengan kesiapan terbaik.
Perusahaan terpilih didorong untuk memperkuat sejumlah aspek, mulai dari desain, finishing, quality control (QC), costing, packaging, on-time delivery (OTD), hingga katalog digital.
Setelah kesiapan produksi terbentuk, HIMKI akan mempertemukan pelaku industri dengan buyer secara spesifik berdasarkan kategori produk.
HIMKI menargetkan dalam enam hingga 12 bulan mulai muncul pesanan pertama atau reaktivasi ekspor, dan dalam jangka 12–36 bulan, diharapkan mampu berkembang dengan repeat order serta diversifikasi negara tujuan ekspor.
Adapun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.
Sektor furnitur dan kerajinan juga dinilai memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja serta keterhubungan dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS.
Baca juga: HIMKI integrasikan pameran kerajinan dengan program penguatan industri
Baca juga: HIMKI yakin RI punya modal kuat jadi pusat industri kerajinan global
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.