Pasar Indonesia yang besar harus menjadi daya tawar untuk menarik investasi, transfer teknologi, pengembangan talenta dan membuka pasar bagi solusi Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Indonesia membidik investasi, transfer teknologi dan akses pasar industri digital melalui ASOCIO Digital & AI Summit 2026 di Jakarta yang mempertemukan pelaku teknologi dari 25 ekonomi Asia-Oseania.
“Pasar Indonesia yang besar harus menjadi daya tawar untuk menarik investasi, transfer teknologi, pengembangan talenta dan membuka pasar bagi solusi Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) Soegiharto Santoso dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pertemuan yang akan berlangsung pada 5–7 Oktober 2026, menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengubah besarnya pasar digital menjadi daya tawar ekonomi, terutama untuk mendorong perusahaan nasional masuk lebih jauh ke rantai nilai teknologi dan kecerdasan artifisial (AI) regional.
Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi tujuan penjualan teknologi ketika investasi AI dan ekonomi digital berkembang pesat.
"Kita jangan hanya menjadi tempat teknologi dikonsumsi, sementara nilai tambah, keahlian dan kepemilikannya berkembang di negara lain,” ujar Soegiharto.
Menurut dia, kompetisi AI saat ini telah bergerak jauh melampaui pengembangan aplikasi. Negara-negara berlomba menguasai komputasi, semikonduktor, pusat data, energi, keamanan siber, data, talenta, hingga standar teknologi.
Stanford AI Index 2026 mencatat investasi swasta AI di Amerika Serikat mencapai 285,9 miliar dolar AS pada 2025. Sementara Asia–Oseania memiliki mata rantai strategis industri teknologi, mulai dari semikonduktor di Taiwan, manufaktur dan otomasi di Jepang dan Korea Selatan, basis talenta digital India, hingga skala industri dan riset Tiongkok.
Baca juga: Pemerintah: AI jadi pendorong pertumbuhan negara lebih dari biasanya
Pada saat yang sama, Asia Tenggara berkembang menjadi salah satu pasar digital utama dunia. Nilai ekonomi digital kawasan telah melampaui 300 miliar dolar AS dalam gross merchandise value (GMV) pada 2025.
Melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), ekonomi digital ASEAN diperkirakan berpotensi mencapai sekitar 2 triliun dolar AS pada 2030.
Soegiharto mengatakan pertumbuhan tersebut harus menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperoleh bagian nilai ekonomi yang lebih besar, bukan sekadar menambah jumlah pengguna teknologi.
“Ukuran keberhasilannya harus konkret. Apakah investasi masuk, tenaga kerja Indonesia memperoleh kompetensi baru, perusahaan nasional mendapatkan transfer teknologi, produktivitas industri meningkat, dan solusi buatan Indonesia bisa masuk ke pasar regional. Itu nilai ekonomi yang harus kita kejar,” ujarnya.
Ia menilai posisi Indonesia semakin strategis setelah menjadi salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) pada Juli 2026. Keterlibatan tersebut perlu diikuti penguatan industri domestik agar diplomasi teknologi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian.
Chair Committee ASOCIO Digital & AI Summit 2026 Karim Taslim mengatakan pertemuan 25 ekonomi di Jakarta memberikan keuntungan tersendiri karena jaringan teknologi regional yang biasanya harus dijangkau perusahaan Indonesia ke berbagai negara akan berada dalam satu forum di dalam negeri.
ASOCIO merupakan federasi industri teknologi yang menaungi asosiasi ICT dari 25 ekonomi Asia–Oseania. Pertemuan di Jakarta akan melibatkan pemerintah, asosiasi industri, perusahaan teknologi, investor, CIO, CTO, CDO, CISO, founder, akademisi dan inovator.
“Kesempatan sebagai tuan rumah harus dikonversi menjadi transaksi dan kerja sama nyata. Kita ingin ada perusahaan Indonesia yang mendapatkan mitra, menemukan teknologi yang dibutuhkan, bertemu investor, serta memperoleh jalan untuk masuk ke pasar negara lain,” kata Karim.
Menurut Karim, pembicaraan mengenai AI juga telah bergeser dari sekadar kecanggihan teknologi menjadi persoalan investasi dan produktivitas. Perusahaan mulai menghitung tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI), efisiensi, keamanan, kesiapan data dan SDM, serta kemampuan teknologi diterapkan dalam skala besar.
“AI bukan lagi soal hype. Bagi perusahaan, pertanyaannya sekarang sederhana, apakah investasi AI mampu menurunkan biaya, meningkatkan produktivitas, menciptakan pendapatan baru, dan memperkuat daya saing. Karena itu, pembicaraan AI harus semakin dekat dengan kebutuhan riil industri,” ujarnya.
ASOCIO Digital & AI Summit 2026 akan menggabungkan ASOCIO Digital Summit bertema “Accelerating Digital Transformation: Building Secure, Resilient and Connected Digital Economies” dan ASOCIO AI Summit yang untuk pertama kalinya diselenggarakan dengan tema “AI Beyond Hype: Transforming Industries, Education, Governments and Society.”
Pembahasan akan mencakup antara lain industrial AI, pusat data dan cloud, keamanan siber, digital public infrastructure, GovTech, FinTech, HealthTech, EdTech, infrastruktur AI, serta pengembangan talenta.
Karim mengatakan keberhasilan pertemuan tersebut pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya peserta ataupun diskusi yang berlangsung, melainkan tindak lanjut ekonomi yang dihasilkan.
“Setelah forum selesai, harus ada yang bisa dibawa pulang Indonesia termasuk di antaranya investasi, kemitraan, transfer pengetahuan, pengembangan talenta, atau akses pasar baru. Dengan begitu, posisi Indonesia sebagai tuan rumah benar-benar memberikan nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional,” kata Karim.
Baca juga: BP: Batam siap jadi pusat infrastruktur kecerdasan buatan skala global
Baca juga: Investasi AI harus hadirkan transfer teknologi bagi Indonesia
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.