Banjarbaru (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) mendorong pesantren mengembangkan pendekatan pendidikan yang adaptif menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri, sehingga tetap mampu membimbing santri dengan nilai keagamaan yang kuat.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Kalsel Fahrurazi mengatakan tantangan yang dihadapi pesantren semakin kompleks seiring perubahan sosial yang cepat, termasuk pengaruh media sosial dan persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja.

“Pendekatan pendidikan pesantren perlu tetap bertumpu pada kasih sayang, penghormatan, musyawarah, dan keteladanan, agar adaptasi tidak menghilangkan karakter pesantren,” katanya saat mendampingi Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf kampanye Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru, Selasa.

Ia menegaskan pesantren memiliki peran yang semakin besar dalam pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) karena tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama, tetapi juga lingkungan pendidikan untuk membentuk ilmu, akhlak, kemandirian, dan karakter generasi muda di Kalsel.

“Ada sekitar 333 pondok pesantren di Kalsel dengan 5.784 ustaz dan 81.289 santri. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan posisi pesantren yang strategis dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia di Banua,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, pengembangan pesantren perlu berjalan seiring dengan penguatan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak, agar santri dapat menghadapi perubahan zaman dengan tetap memiliki landasan nilai serta karakter yang kuat.

Fahrurazi menegaskan Pemprov Kalsel siap memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama, pesantren, ulama, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk mendukung pesantren menghadapi berbagai tantangan pendidikan dan perkembangan masyarakat.

Ia menyampaikan sinergi tersebut diarahkan agar pesantren tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga semakin kuat dalam literasi, teknologi, keterampilan, kesehatan, serta perlindungan anak sebagai bagian dari kebutuhan pendidikan generasi muda yang terus berkembang.

“Penguatan berbagai aspek tersebut diharapkan dapat menjaga pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus mempertahankan nilai-nilai yang menjadi identitas, sehingga pesantren terus berperan membentuk generasi yang berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Fahrurazi.

Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.