Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanasnya sepanjang sejarah, dengan suhu panas ekstrem terus berlanjut hingga Agustus dan beberapa negara kini sedang menghadapi gelombang panas keempat mereka sejak Mei.
Jenewa (ANTARA) - Dunia mencatatkan Juli terpanas kedua sepanjang sejarah, dengan panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sebagian besar wilayah Belahan Bumi Utara, sementara hujan lebat dan banjir menerjang kawasan-kawasan lain, demikian disampaikan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Selasa (11/8).
Suhu udara permukaan rata-rata global pada Juli menyentuh 1,47 derajat Celsius di atas perkiraan rata-rata pra-industri untuk periode 1850-1900, sebut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service) sebagaimana dikutip oleh WMO.
WMO menyebutkan bahwa Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanasnya sepanjang sejarah, dengan suhu panas ekstrem terus berlanjut hingga Agustus dan beberapa negara kini sedang menghadapi gelombang panas keempat mereka sejak Mei.
"Apa yang kami saksikan dalam beberapa bulan terakhir merupakan dampak gabungan dari pemanasan jangka panjang dengan pola sistem tekanan udara tinggi dan rendah yang bergantian secara terus-menerus di seluruh Belahan Bumi Utara," kata Kepala Informasi Iklim WMO John Kennedy.
Kennedy mengatakan bahwa sistem tekanan udara tinggi biasanya dikaitkan dengan suhu tinggi dan kondisi kering, sedangkan sistem tekanan udara rendah cenderung membawa cuaca yang lebih sejuk dan lebih basah.
Dia menjelaskan bahwa pola tekanan tinggi semacam itu dapat bertahan selama berhari-hari atau bahkan berpekan-pekan, seperti yang terjadi tahun ini.
Curah hujan dan kelembapan tanah yang sangat rendah dilaporkan terjadi di Prancis, Spanyol, sebagian wilayah Jerman dan Inggris, serta daerah-daerah yang terletak lebih jauh ke timur.
WMO menjelaskan bahwa suhu panas, kelembapan tanah yang rendah, dan kekeringan telah menimbulkan dampak yang sangat parah terhadap ekosistem dan pertanian, menurunkan ketinggian air sungai, mengganggu transportasi dan produksi energi, serta meningkatkan risiko karhutla.
Selain itu, Juli juga mencatatkan peristiwa karhutla dahsyat di Eropa Barat, baik dari segi luas area yang terbakar maupun emisi yang dihasilkan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.