Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memandang bahwa kasus siswi SMA yang menjadi korban tertemper Kereta Rel Listrik (KRL) hendaknya menjadi momentum bagi para orang tua agar lebih memperhatikan kondisi anak-anaknya.

"Ini menjadi alarm untuk kita semua agar lebih memperhatikan kondisi anak-anak terutama terkait pengasuhan dan interaksi," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Pihaknya menduga bahwa korban tersebut memang berniat mengakhiri hidup.

"Terkait anak di Stasiun Jurangmangu memang mengarah ke mengakhiri hidup," kata Diyah Puspitarini.

Ia menilai bahwa korban seharusnya mendapatkan perhatian, baik dari keluarga maupun teman dekat.

Baca juga: KPAI minta pemerintah pastikan anak dengan HIV/AIDS peroleh pengobatan

"Ada kondisi kesehatan mental anak tersebut yang perlu mendapatkan perhatian, baik dari keluarga atau teman dekat," katanya.

Sebelumnya, pada Senin (10/8) sore, korban (14) yang berseragam putih abu-abu tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan.

Korban ditemukan oleh pihak keamanan stasiun di jalur KRL rute Tanah Abang - Rangkasbitung.

Kemudian, jenazah korban diamankan dan dibawa ke RSUD Kota Tangerang Selatan untuk dilakukan visum.

Keesokan harinya, korban dimakamkan di Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.

Korban diketahui berdomisili di Pondok Ranji dan tercatat sebagai siswi SMA kelas 10 atau sederajat.

Baca juga: KPAI siapkan asesmen psikologis siswa dampak temuan senjata di sekolah

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.