Surabaya (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama mengembangkan benih kedelai unggul melalui pemanfaatan lahan seluas 56 hektare untuk mendukung percepatan swasembada kedelai nasional.
"Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan riset, dukungan sarana produksi, hingga pelibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis pengalaman dan kontribusi di sektor pertanian," kata Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman dalam keterangan diterima di Surabaya, Kamis.
Mentan Amran menuturkan, kerja sama ini merupakan langkah konkret untuk menindaklanjuti arahan presiden terkait percepatan swasembada kedelai nasional.
Kolaborasi riset ini secara khusus akan melibatkan Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Unesa untuk mengelola lahan seluas 56 hektare.
Baca juga: BRIN berhasil rakit varietas kedelai genjah berproduktivitas tinggi
“Kita langsung tanda tangan MoU (nota kesepahaman) tadi. Kemudian kita tindaklanjuti kedelai. Kedelai punya lahan Unesa 56 hektare. Kami berikan bibit gratis, traktor, roda empat itu gratis. Nanti diolah, dosen-dosen dan tim meneliti. Kalau produksinya insyaallah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektare, semua bibit yang 56 hektare kami (Kementan) beli,” ucapnya.
Setelah diserap oleh pemerintah, benih-benih unggul hasil produksi Unesa tersebut nantinya akan diperuntukkan bagi masyarakat Jawa Timur guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.
Dalam skema besar swasembada ini, Kementan juga melibatkan perguruan tinggi lain, seperti IPB University yang fokus pada pengembangan bibit padi dan ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) pada benih jagung.
Amran menegaskan bahwa Indonesia harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi. Ia meyakini konsep triplehelix, yaitu pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, dan akademisi yang menciptakan inovasi baru, dapat membuat swasembada dan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat.
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.