Masih banyak pahlawan-pahlawan lain, para heroes lain di luar sana, terutama sekarang yang sedang berjibaku melawan karhutla
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengapresiasi pada para pejuang lapangan yang tengah berjibaku melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia dan menyematkan gelar pahlawan untuk mereka.
Dalam acara penyerahan penghargaan Wana Lestari 2026 kepada pahlawan hutan di Gedung Kemenhut, Jakarta, Kamis, Menhut Raja Juli juga meminta seluruh masyarakat turut mendoakan mereka yang hingga kini masih berjuang memadamkan api.
"Masih banyak pahlawan-pahlawan lain, para heroes lain di luar sana, terutama sekarang yang sedang berjibaku melawan karhutla, tepuk tangan untuk mereka semua di lapangan, seraya tentu kita sisipkan doa, kita percaya bahwa kerja keras, kerja-kerja yang sistematis, teknokratis, menjadi sangat penting," ujar Menhut.
Ia juga meminta masyarakat untuk sama-sama berdoa agar karhutla yang sedang menimpa Indonesia dapat segera diatasi dan tidak menimbulkan banyak korban.
Baca juga: Manggala Agni masih berjibaku padamkan karhutla di Rohil dan Bengkalis
"Saya mau tetap sisipkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar karhutla yang sedang menimpa negeri ini dapat kita atasi secara kompak, bersama-sama, sehingga tidak menimbulkan banyak korban yang kena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan tentu hutan-hutan kita bisa terjaga, serta tidak terlalap oleh El Nino yang sering disebut sebagai El Nino Godzilla ini," ucap Menhut Raja Juli.
Sebagai informasi, karhutla terjadi di beberapa wilayah Indonesia, antara lain di Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur; serta di wilayah Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Kementerian kehutanan (Kemenhut) mengoptimalkan peluang pertumbuhan awan untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam penanganan karhutla dengan koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan koordinasi dengan data BMKG menjadi bagian penting dalam menentukan wilayah dan waktu yang dapat dioptimalkan untuk pelaksanaan OMC.
Baca juga: Pemerintah optimalkan OMC tangani karhutla di Riau, Kalbar, dan Kalteng
"Untuk pelaksanaan OMC, kami terus berkoordinasi dengan BMKG untuk melihat potensi pertumbuhan awan dan menentukan waktu yang paling optimal. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian karena terdapat peningkatan titik panas dan sebaran asap," katanya.
Berdasarkan laporan BMKG per 12 Agustus 2026, peluang pertumbuhan awan sedang hingga tinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada 13-16 Agustus.
Data BMKG menunjukkan titik panas di Kalimantan Barat meningkat dari 98 menjadi 136 titik dibandingkan hari sebelumnya. Sementara di Kalimantan Tengah meningkat dari 29 menjadi 78 titik dan Kalimantan Selatan dari 10 menjadi 31 titik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Baca juga: Menkopolkam minta Kalteng dan Kalbar hentikan izin pembakaran lahan
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.