Tasmania (ANTARA) - Menteri Industri Primer dan Sumber Daya Air Tasmania Gavin Pearce kepada para wartawan mengatakan bahwa pengujian pada seekor burung skua cokelat migran yang ditemukan mati di pantai barat laut negara bagian itu menunjukkan hasil positif untuk flu burung H5N1 yang sangat patogen.
Dia mengatakan bahwa burung tersebut ditemukan oleh staf Dinas Taman dan Margasatwa (Parks and Wildlife Service) yang telah melakukan pengawasan aktif di wilayah pesisir.
Dengan demikian, Tasmania menjadi negara bagian keenam sekaligus terakhir di Australia yang melaporkan kasus H5N1. Virus tersebut pertama kali terdeteksi di daratan utama Australia, tepatnya di Negara Bagian Australia Barat (Western Australia/WA), pada Juni lalu.
Pearce mengatakan bahwa otoritas di negara bagian tersebut telah bekerja sama dengan para ahli industri, margasatwa, dan biosekuriti untuk memperkuat pengawasan, kesiapsiagaan, serta mekanisme penanganan.
"Saya ingin meyakinkan warga Tasmania bahwa kami siap merespons flu burung H5 ini, dan kami akan terus memberikan pembaruan seiring dengan ketersediaan informasi lebih lanjut," ujarnya.
Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins pada Selasa (11/8) mengumumkan bahwa pemerintah federal telah memperoleh 1.500 vial vaksin H5N1 sebagai tahap awal yang akan diberikan kepada burung-burung berisiko tinggi yang berada di penangkaran.
Menteri Lingkungan Hidup Tasmania Guy Barnett pada Kamis mengatakan bahwa negara bagian tersebut akan mulai memvaksinasi hingga 350 ekor burung parrot perut oranye (orange-bellied parrot) yang sangat terancam punah di tempat penangkaran setelah mendapat persetujuan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.