Jakarta (ANTARA) - Google melalui peluncuran ponsel seri Pixel 11 mengenalkan fitur yang sangat membantu pengguna tunarungu ataupun yang mengalami gangguan pendengaran untuk berkomunikasi dengan fitur baru penerjemahan bahasa isyarat ke teks yang ditenagai oleh kecerdasan artifisial (AI).

Fitur ini dikembangkan oleh laboratorium AI Google, DeepMind, dan didebutkan lewat layanan Gboard dan Live Transcribe terbaru yang tersedia di Pixel 11.

Dilaporkan Engadget, Rabu (12/8), pengguna tunarungu ataupun dengan gangguan pendengaran dulu mungkin terbiasa dengan mengetik pesan untuk berkomunikasi dengan orang yang tak paham bahasa isyarat.

Namun dengan pengembangan model AI sign-language-to-text (SL2T) yang didebutkan Google, mereka bisa lebih cepat dalam berkomunikasi karena bahasa isyarat yang mereka tampilkan bisa langsung diterjemahkan ke teks dengan memanfaatkan chatbot Gemini.

Baca juga: Google Pixel 11 Series meluncur dengan harga mulai Rp16 jutaan

"Terdapat keragaman yang besar di antara penyandang tunarungu dalam hal tingkat kemahiran mereka dalam menggunakan bahasa isyarat, berbicara, membaca, dan menulis, sehingga penting untuk mendukung akses dalam semua modalitas," demikian pernyataan DeepMind mengenai dasar pengembangan fitur itu.

Lebih lanjut DeepMind menyatakan manfaat dari fitur ini, "Penyandang tunarungu dapat memperoleh manfaat dari pemrosesan bahasa isyarat dengan cara yang sama seperti orang yang mendengar memperoleh manfaat dari pemrosesan bahasa lisan, ditambah lagi teknologi ini membuka kemungkinan baru untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara komunitas tunarungu dan komunitas yang mendengar."

Dalam menyempurnakan SL2T, DeepMind melatih model AI itu selama lebih dari 100.000 jam data bahasa isyarat multibahasa dengan sekitar seperempat dari data yang digunakan mewakili informasi dalam bahasa Isyarat Amerika (ASL).

Baca juga: Pixel 11 siap debut, mungkin miliki kamera telefoto 10,8 MP

Karena alasan itu, model ini baru mendukung transkripsi ASL ke bahasa Inggris pada debutnya kali ini. Ke depan Google berencana mendukung lebih banyak bahasa dan perangkat di masa mendatang.

Membahas cara kerjanya, SL2T tidak menerjemahkan video mentah seseorang tengah berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Model AI ini bekerja dengan hadirnya model terpisah di perangkat yang mengubah rekaman video menjadi semacam kerangka koordinat geometris yang dikirim ke server Google.

Baca juga: Google Pixel 11a dikabarkan menggunakan chip Tensor G6 dan RAM 8GB

Model itu sengaja dirancang sedemikian rupa untuk melindungi privasi pengguna. SL2T juga berbeda dari sistem bahasa isyarat ke teks sebelumnya karena menerjemahkan kerangka yang diterimanya langsung ke dalam teks, alih-alih menghasilkan teks perantara yang dikenal sebagai glosarium.

"Tata bahasa isyarat yang sudah ada gagal menangkap aspek-aspek bahasa isyarat yang kaya dan non-linear, seperti penanda non-manual dan konstruksi spasial," jelas DeepMind.

"Menerjemahkan langsung dari kerangka koordinat geometris menghilangkan batasan kosa kata buatan dan memungkinkan kualitas terjemahan meningkat secara langsung seiring dengan data."

Baca juga: Google bakal luncurkan Pixel generasi terbaru pada 12 Agustus 2026

Dukungan untuk ASL merupakan awal yang baik, meski begitu DeepMind mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Secara global, terdapat lebih dari 70 juta orang tuli dan tunarungu yang berkomunikasi menggunakan sekitar 200 bahasa isyarat. Kabar baiknya meski perusahaan ini memiliki awal yang sulit karena SL2T dilatih secara bersamaan pada banyak bahasa, namun hal ini menjadi dasar penting karena model AI tersebut dapat mempelajari struktur dasar yang sama di antara bahasa-bahasa isyarat lainnya.

Baca juga: Pixel 11 mungkin alami peningkatan kamera tapi kapasitas RAM berkurang

Penerjemah: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.