Jakarta (ANTARA) - Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sejumlah sekolah di Jakarta Timur (Jaktim) kerap menemukan persoalan siswa dengan tekanan darah yang tidak normal dan remaja yang mengalami anemia atau kadar hemoglobin rendah.

"Kalau berdasarkan pengalaman, beberapa hal yang kami temukan, di antaranya adalah tensi. Tensi anak-anak sekolah ada yang sudah, istilahnya tidak normal lagi, mungkin melebihi usianya gitu, ya," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Arief Wahyudhy di SMKN 64 Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Hasil tersebut masih merupakan temuan sementara karena rangkaian pemeriksaan CKG di sekolah itu belum selesai seluruhnya.

"Kalau berdasarkan pengalaman yang sudah kami dapat saat CKG di sekolah, karena memang saat ini belum selesai untuk tes CKG-nya, mungkin nanti bisa direkap sampai akhir tahun," ujar Arief.

Dia menyebutkan salah satu temuan yang cukup menjadi perhatian, yaitu tekanan darah pada anak sekolah.

Dalam pemeriksaan, terdapat sejumlah siswa yang memiliki tekanan darah di luar batas normal atau tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan berdasarkan usia mereka.

Baca juga: CKG sekolah di SMKN 64 Cipayung periksa kesehatan 350 siswa

Temuan lain yang juga menjadi perhatian, yakni anemia pada kelompok remaja. Kondisi tersebut diketahui melalui pemeriksaan kadar hemoglobin.

"Sejumlah remaja ditemukan memiliki kadar hemoglobin yang rendah sehingga membutuhkan perhatian lebih lanjut," tutur Arief.

Menurut dia, CKG tidak semata-mata bertujuan mengetahui kondisi kesehatan siswa pada saat pemeriksaan. Program tersebut juga menjadi sarana deteksi dini terhadap berbagai gangguan kesehatan yang mungkin belum disadari oleh anak maupun orang tua.

"Melalui cek kesehatan ini, selain mendeteksi, kita juga memberikan edukasi bagaimana cara untuk mencegahnya," ucap Arief.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian, yaitu anemia pada remaja putri. Pemerintah selama ini telah memiliki program pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri sebagai salah satu upaya mencegah dan menangani anemia.

"Kami dengan adanya cek ini mengingatkan kembali bagaimana untuk mengonsumsinya lebih teratur, lebih rutin, dan sebagainya agar masalah-masalah seperti anemia bisa diatasi," ungkap Arief.

Baca juga: Pemkot Jaktim perluas layanan jemput bola CKG ke sekolah dan komunitas

Selain persoalan konsumsi tablet tambah darah, pola makan dan gaya hidup juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Arief mengatakan pola konsumsi makanan anak dan remaja saat ini turut menjadi tantangan dalam menjaga kecukupan gizi.

"Yang menyebabkannya adalah pola gaya hidup kita. Anak-anak sekarang kan mulai, misalnya mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) dan sebagainya, yang di antaranya kecukupan gizi di dalamnya kurang, tidak memenuhi ini, misalnya zat besi dan sebagainya," jelas Arief.

Kemudian, sambung dia, ada pula remaja yang menjalani pola diet terlalu ketat. Jika dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi tubuh, maka pola diet tersebut berpotensi menyebabkan asupan gizi menjadi tidak mencukupi.

Arief pun berharap seluruh murid mengikuti program cek kesehatan gratis secara menyeluruh sehingga kondisi kesehatan siswa dapat diketahui secara lengkap.

Baca juga: DKI sertakan anak tak bersekolah dalam Program CKG Sekolah

Baca juga: Program MBG dan CKG jadikan anak Indonesia makin sehat

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.