Fasilitasi ekspor bagi UMKM melalui program tersebut didukung jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan transaksi melalui Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) mencapai 251 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp4,49 triliun sepanjang semester I-2026.
Mendag menyebut sekitar 60-70 persen UMKM yang difasilitasi melalui program tersebut merupakan pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
“Tahun ini Januari-Juni itu malah (transaksi) sudah 251 juta dolar AS. Itu UMKM yang 60-70 persen belum pernah ekspor. Kita fasilitasi dan tidak pernah ketemu, ya cuma online saja,” kata Budi dalam Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis.
Program UMKM BISA Ekspor merupakan program Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk membantu pelaku usaha memperoleh akses ke pasar luar negeri.
Budi menjelaskan pelaku UMKM dapat mempresentasikan produknya kepada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Perwakilan tersebut kemudian membantu mencari calon pembeli untuk melanjutkan proses penjajakan bisnis.
“Bapak Ibu tinggal presentasi ke perwakilan kita di luar negeri ke Atase Perdagangan, ITPC ya. Nanti perwakilan kita, ada ITPC, kemudian mencarikan buyer. Setelah dapat buyer, Bapak Ibu nanti presentasi lagi ke buyer,” ujar Mendag kepada para UMKM yang hadir dalam acara itu.
Sebagai pembanding, Kemendag mencatat program UMKM BISA Ekspor memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan nilai transaksi 134,87 juta dolar AS atau sekitar Rp2,41 triliun sepanjang 2025.
Nilai tersebut terdiri atas pesanan pembelian atau purchase order sebesar 57,45 juta dolar AS (sekitar Rp1,03 triliun) dan potensi transaksi sebesar 77,42 juta dolar AS (sekitar Rp1,38 triliun).
Dengan demikian, angka transaksi 251 juta dolar AS yang disampaikan Budi untuk Januari-Juni 2026 telah melampaui capaian yang dicatat program tersebut sepanjang 2025.
Sebelumnya pada Juli 2026, Budi menyampaikan optimisme nilai transaksi UMKM BISA Ekspor dapat mencapai kisaran 300 juta dolar AS atau sekitar Rp5,36 triliun sepanjang tahun ini.
Fasilitasi ekspor bagi UMKM melalui program tersebut didukung jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara.
Melalui jaringan itu, pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai pasar tujuan sekaligus dipertemukan dengan calon pembeli untuk membuka peluang transaksi ekspor.
Budi juga melihat pemanfaatan platform perdagangan elektronik dapat menjadi pintu awal bagi UMKM untuk menjangkau pasar ekspor, termasuk melalui transaksi ritel dengan konsumen di negara lain.
Ia menyebut transaksi yang pada awalnya dilakukan dalam jumlah satuan berpeluang berkembang menjadi transaksi antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B) apabila produk yang dibeli menarik minat importir.
“Yang membeli itu bisa jadi sebenarnya importir. Yang membeli importir kemudian tahu produknya bagus, nanti komunikasi akhirnya bisa ekspor,” ujar Budi.
Baca juga: Program UMKM BISA Ekspor bukukan transaksi 107,34 juta dolar AS
Baca juga: Mendag optimistis transaksi UMKM Bisa Ekspor tembus Rp5,43 triliun
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.