Jakarta (ANTARA) - Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kepulauan Seribu Achmad Hariadi mengatakan pengelola Pulau Bidadari mengelola sampah yang tidak hanya berasal dari aktivitas pariwisata di kawasan setempat, tetapi juga sampah kiriman dari daratan Jakarta.

“Selama tiga bulan, total sampah kiriman di kawasan tersebut(daratan Jakarta) bisa mencapai 900 ton,” kata Achmad di Jakarta, Kamis.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kata dia, Sudin LH Kepulauan Seribu bekerja sama dengan komunitas Mas Jos (Jagonya Olah Sampah) untuk menghadirkan fasilitas pengolahan sampah mandiri.

Sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis dihancurkan dengan menggunakan mesin untuk mengurangi volume limbah yang dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Program yang telah berjalan selama dua minggu ini diharapkan menjadi pemantik bagi pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu, baik pulau permukiman maupun pulau resort,” ujar Achmad.

Baca juga: Pramono tegaskan tak akan mundur untuk kelola sampah di Jakarta

Sementara itu, Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan mengungkapkan pemerintah mengapresiasi penerapan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, yang dilakukan di pulau resort tersebut.

Menurut dia, Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber yang dilakukan di pulau resort itu merupakan upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu bersama dengan pihak swasta dalam rangka mewujudkan konsep Pulau Zero Sampah di wilayah DKI Jakarta.

Fadjar menyebutkan strategi yang diterapkan itu bukan lagi sekadar mengumpulkan dan mengangkut sampah, melainkan melalui proses pemilahan yang ketat dari sumbernya.

Lebih lanjut, dia memaparkan pengelolaan sampah dari sumber di Pulau Bidadari dilakukan dengan mengolah sampah menjadi Pupuk Organik Cair (POC), sedangkan sampah plastik diproses menjadi biji plastik atau disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.

Dalam pelaksanaannya, PT Sea Breeze Indonesia selaku pengelola Pulau Bidadari juga bersinergi dengan komunitas Indonesia Menuju Hijau dan lima Juru Pemilah Sampah dari sektor informal.

“Mereka berkolaborasi menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri dari hulu hingga hilir,” tutur Fadjar.

Baca juga: Pemuda di Jakut diajak sulap sampah jadi barang bernilai ekonomis

Baca juga: Pramono akan lakukan pembenahan internal terkait TPS liar di Cilincing

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.