Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan memperluas akses Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining tuberkulosis (TBC) bagi santri dan ekosistem pendidikan keagamaan.

Penguatan layanan tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama kedua kementerian dalam Kick Off Nasional di Pondok Pesantren Khairul Ummah, Jakarta Utara, Kamis.

“Terdapat lebih dari 7 juta santri yang tersebar di 42.000 Pondok pesantren dengan berbagai jenjangnya, serta 10,5 juta siswa di 80.000 madrasah. Ekosistem inilah yang membutuhkan kehadiran negara di bidang kesehatan,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Amin Suyitno.

Perjanjian Kerja Sama ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amin Suyitno bersama Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni.

Penandatanganan disaksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Kegiatan tersebut juga dilaksanakan secara serentak di 38 kabupaten/kota di Indonesia.

Suyitno mengatakan Kemenag akan memfasilitasi pelaksanaan program kesehatan strategis pemerintah di lingkungan pendidikan keagamaan. Langkah tersebut penting mengingat besarnya ekosistem pendidikan keagamaan yang menjadi bagian dari layanan Kementerian Agama.

Baca juga: Perkuat upaya eliminasi TBC, Kemenkes kirim Portable X-Ray ke daerah

Menurutnya, program cek kesehatan sejauh ini telah menjangkau lebih dari 12.000 peserta dari kalangan pendidikan keagamaan. Penguatan layanan kesehatan di lingkungan pendidikan menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Pelaksanaan CKG dan skrining TBC juga menjadi perhatian karena lingkungan pesantren memiliki karakter hunian yang komunal. Kondisi tersebut membuat deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan kesehatan santri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan Kick Off Cek Kesehatan Gratis tersebut merupakan bagian dari realisasi Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden. Program diarahkan pada deteksi dini untuk mendukung peningkatan rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

“Kunci penanganan TBC adalah skrining cepat. Jika hasil skrining menunjukkan positif, penyakit ini bisa disembuhkan secara total dan obatnya sangat manjur. Obatnya gratis dan tersedia di puskesmas,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Untuk mendukung kemudahan skrining, program ini memanfaatkan rontgen portabel yang dapat dibawa ke lokasi permukiman dan pesantren. Dengan dukungan tersebut, proses skrining dapat dilakukan lebih dekat dengan lingkungan tempat santri beraktivitas.

Kerja sama Kemenag dan Kemenkes ini sekaligus memperkuat akses layanan kesehatan pada ekosistem pendidikan keagamaan.

Baca juga: Wamenkes tinjau CKG terintegrasi skrining TBC Lapas Kelas IIA

Dengan cakupan jutaan santri dan siswa madrasah, fasilitasi layanan kesehatan di lingkungan pendidikan keagamaan menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap deteksi dini dan layanan kesehatan.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.