...Kami dari kementerian punya forum anak dari tingkat nasional sampai tingkat kelurahan atau desa

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penting untuk memperkuat edukasi tentang anemia bagi remaja agar mereka memahami alasan perlunya mengonsumsi tablet tambah darah (TTD), sehingga tidak sekadar menerima dan menyimpannya tanpa dikonsumsi.

Budi dalam Seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak di Jakarta, Kamis, mengatakan hal tersebut sebagai respons atas pengalaman dua remaja seputar tablet tambah darah dan CKG. Menurutnya, anak perlu dilibatkan dalam edukasi, sehingga betul-betul memahami alasan setiap tindak lanjut kesehatan.

"Anak-anak jadi objek. Tadi bilang gitu kan? Anak-anak jadi objek aja. Harusnya mereka jadi subjek. Mereka tahu kalau 'saya nanti menikah, saya punya anak, saya mau anak saya pintar-pintar. Gak mau jadi bodoh-bodoh. Nah karena itu saya harus gak boleh anemia'," katanya.

Dia mencontohkan, di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), bisa dibuat kegiatan dokter kecil, atau posyandu remaja, di mana para siswa mengajarkan teman-temannya tentang kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh sesamanya, agar edukasi lebih efisien.

Baca juga: Cara minum tablet tambah darah yang benar bagi remaja

Seorang remaja putri asal Papua Tengah, Ruth, mengatakan, dia meminum tablet hanya karena diarahkan. Rasa tablet itu biasa saja, tetapi ada kekhawatiran yang muncul dari adanya stigma sebab harus meminum tablet itu.

Ruth, yang baru lulus SMA pada 2025, mengatakan bahwa ada anak-anak remaja lain yang menyarankan untuk menyimpan saja TTDnya dan tidak usah diminum. Dia mengetahui tablet tersebut untuk menangani anemia dan mencegah anak stunting, namun tidak memahami dampak stunting secara mendalam.

Budi pun menjelaskan bahwa selain membuat anak lebih pendek, sunting juga membuat intelegensia anak jauh di bawah normal.

Seorang siswi SMP bernama Aluna juga membagikan pengalamannya yang serupa. Dia pernah meminum TTD yang diberikan guru pembina Palang Merah Remaja (PMR). Selain itu, dia juga membagikan TTD ke teman-temannya.

Baca juga: Sekolah perlu beri edukasi tentang konsumsi tablet tambah darah

"Tapi itu cuma mereka itu kayak nerima doang. Gak mau diminum gitu. Kayak, 'ah buat apa sih obat tambah darah'? Oh bukan karena masalahnya rasanya gak enak atau apa. Tapi karena buat apa gitu ya? Kurang paham," kata Aluna.

Dia mengaku, dulu dia tidak pernah diajarkan tentang apa itu hemoglobin (HB) yang normal, dan dia juga melapor ke orang tuanya sebelum mengkonsumsi TTD karena takut salah minum obat.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengatakan, menurutnya anak-anak perlu menjadi pelopor dalam mengedukasi teman-temannya tentang kesehatan. Hal tersebut, katanya, dapat dibangun melalui forum anak yang dibina pihaknya.

"Kami dari kementerian punya forum anak dari tingkat nasional sampai tingkat kelurahan atau desa. Jadi bagaimana anak-anak yang di desa ini, misalkan ambil aja 10 kemudian dilatih, diberi pemahaman kemudian suruh berbicara kepada teman-temannya. Bisa melalui permainan dan sebagainya. Ini perlu inovasi," kata Arifah.

Menurutnya, anak-anak berhak untuk mengetahui kondisi kesehatannya, karena hal itu hak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan dalam keadaan sehat.

Baca juga: Kemenkes: Tablet tambah darah cegah bayi lahir prematur dan stunting

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.