Jakarta (ANTARA) - Bait-bait sajak sang maestro, Taufiq Ismail, dilantunkan dalam acara Semaan Puisi Edisi ke-136 menghidupkan jiwa sastra yang menggema di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM).

Mengusung tema “Taufiq Ismail: Perjuangan, Karya, dan Penghargaan”, acara yang digelar pada Kamis (13/8) itu, bukan sekadar pembacaan puisi biasa. Mengambil konsep 'semaan’, yang secara tradisi berarti menyimak dengan seksama dan khidmat, perhelatan ini berhasil menyatukan emosi penikmat sastra lintas generasi.

Baca juga: Taufiq Ismail rayakan usia 90 tahun dengan luncurkan enam jilid buku

Baca juga: Menbud sebut Taufiq Ismail sebagai Bapak Sastra Indonesia

"PDS HB Jassin adalah tempat terbaik untuk merayakan kedalaman kata-kata Taufiq Ismail. Di sini, sejarah sastra tidak mati, melainkan berdenyut dan menghidupkan jiwa-jiwa kita kembali," ujar Ayie Suminar, salah satu pendiri Komoenitas Makara, yaitu komunitas seni budaya yang berbasis di Makara Art Center UI, dalam keterangan pers yang diterima pada Jumat.

Elegansi acara terpancar dari kesederhanaan panggung yang berada di ruangan yang menyimpan arsip sejarah, mengingatkan kembali pada esensi sejati sastra sebagai penjaga gerbang peradaban.

Taufiq Ismail, tokoh angkatan '66 yang puisi-puisinya selalu tajam memotret sosial sekaligus teduh dalam spiritualitas, hadir membawa ruh perjuangan dan keindahan kata. Ketika bait-bait puisi legendarisnya mengalun, atmosfer PDS HB Jassin bergetar oleh perpaduan rasa getir, haru, dan rindu yang mendalam.

Setiap jeda napas dan intonasi yang dihadirkan para pembaca puisi siang itu seperti mengajak penonton menyelami kembali sejarah, merenungkan hakikat kemanusiaan, hingga berserah pada Sang Pencipta.

Dihadiri oleh sejumlah tokoh sastra nasional, budayawan, akademisi, serta generasi muda. Melalui bahasa yang anggun dan penyajian yang sarat akan nilai estetika tinggi, Semaan Puisi ini sukses menjadi oase kultural yang mengukuhka n posisi TIM sebagai episentrum pergerakan seni dan sastra yang tak lekang oleh waktu.

Baca juga: Taufiq Ismail sabet penghargaan dari UWRF 2025

Baca juga: Menbud Fadli Zon resmikan Museum Sastra dan Rumah Puisi Taufiq Ismail

Baca juga: Badan Bahasa gelar Malam Sastra beri penghargaan kepada komunitas

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.