Tokyo (ANTARA) - Hujan deras mengguyur wilayah timur Jepang, Kamis (13/8), dan berlanjut hingga Jumat dini hari. Tiga orang tewas dalam bencana itu.
Akibat curah hujan ekstrem di Prefektur Chiba, dekat Tokyo itu, badan meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan Level 5—tingkat tertinggi dalam skala mereka.
Banjir melanda jalan-jalan di seluruh prefektur tersebut, sementara pemerintah Kota Chiba dan Ichikawa, antara lain, mendesak warga untuk segera mengambil langkah-langkah keselamatan karena bencana mungkin sedang terjadi atau akan segera terjadi.
Badan Meteorologi Jepang juga mengeluarkan peringatan tanah longsor Level 5 untuk beberapa wilayah di prefektur tersebut, termasuk Chiba dan Ichihara.
Menurut badan tersebut, hujan deras itu dipicu oleh aliran udara hangat dan lembap ke wilayah timur Jepang yang bertemu dengan udara dingin di lapisan atas atmosfer sehingga menciptakan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil.
Hujan lebat diperkirakan masih akan berlanjut di Chiba dan wilayah sekitarnya hingga Jumat.
Menurut Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana, perintah evakuasi telah dikeluarkan bagi lebih dari 400.000 orang di Prefektur Chiba dan Ibaraki hingga Jumat tengah malam.Sementara perintah evakuasi untuk sebagian wilayah Saitama telah dicabut.
Menurut Kantor Kabinet, setidaknya 200 tempat penampungan evakuasi telah disiapkan di ketiga prefektur tersebut serta di Prefektur Gunma.
Seorang pria yang terlihat berada di tengah genangan banjir di jalan yang terendam air di Ichikawa kemudian dipastikan meninggal dunia.
Seorang perempuan berusia 66 tahun meninggal setelah terjebak di dalam mobil di jalan yang terendam banjir di Sakura, kata otoritas setempat.
Seorang pria lainnya juga meninggal setelah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di jalan yang terendam banjir di Yachiyo, Prefektur Chiba, kata pihak kepolisian.
Kendaraan-kendaraan terjebak di jalan-jalan yang terendam banjir di seluruh Prefektur Chiba. Para petugas pemadam kebakaran menerima panggilan dari warga yang terjebak di dalam mobil mereka.
Air menyembur keluar dari lubang saluran pembuangan di Kota Chiba. Sementara warga harus menerjang genangan air setinggi lutut saat bergegas pulang ke rumah.
Ratusan orang berkumpul di gedung pemerintah prefektur, yang dibuka sebagai tempat penampungan bagi para warga yang terjebak.
Salah satu dari mereka, seorang perempuan berusia 34 tahun yang sedang dalam perjalanan pulang dari Tokyo, berkata, "Kaki saya basah kuyup hingga sebatas lutut. Minimarket dan pos polisi mengalami pemadaman listrik. Saya merasa tidak aman."
"Sebenarnya saya ingin menghindari bermalam di sini, tetapi saya harus menunggu hujan reda dan air surut. Saya belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya," ujarnya.
Di Distrik Chuo, Chiba, curah hujan per jam mencapai 115 milimeter pada Kamis malam. Angka itu setara dengan total curah hujan bulanan di wilayah tersebut pada Agustus dalam kondisi normal.
Menurut anak perusahaan Tokyo Electric Power Company Holdings Inc., Sekitar 45.000 rumah di Prefektur Chiba terdampak akibat pemadaman listrik.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Topan Chan-hom terjang Jepang, Tokyo siaga banjir
Baca juga: Topan Jangmi hantam Jepang barat, picu peringatan banjir tertinggi
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.