Jakarta (ANTARA) - Pengamat mode Lisa Fitria menilai bahwa kebaya yang dikenakan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 menjadi simbol diplomasi melalui budaya tradisional bangsa.
"Ini menunjukkan bahwa kebaya sebenarnya sangat relevan untuk ruang-ruang profesional, politik, diplomasi maupun forum internasional. Jadi bagi saya sendiri penggunaan kebaya oleh perempuan, pemimpin memiliki pesan yang lebih besar daripada sekadar pilihan busana ya," kata Lisa kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Lisa, salah seorang pendiri Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengatakan kebaya dapat dijadikan sebagai bentuk soft diplomacy, diplomasi melalui pendekatan sosial dan budaya, a la Indonesia dalam forum kenegaraan. Kebaya tidak hanya membawa identitas budaya ke ruang publik, tetapi, juga sebagai bentuk representasi bahwa busana tradisional tidak harus ditinggalkan ketika masyarakat ingin tampil modern.
Baca juga: Prabowo ingin tegaskan posisi Indonesia lewat jas "double breasted"
"Justru kekuatan fesyen Indonesia ada pada kemampuan mengolah warisan budaya menjadi sesuatu yang contemporary dan juga relevan," ucap Lisa.
Sebelumnya dalam keterangan resmi DPR RI, Ketua DPR RI Puan Maharani memilih mengenakan kebaya brokat berwarna hijau zaitun. Kebaya brokat itu terinspirasi dari kebaya Sunda berwarna hijau zaitun dengan detail ribbon applique.
Penampilan Puan dilengkapi dengan selendang berwarna hijau tua, dan kain bernuansa senada.
Lisa menilai kebaya berwarna hijau zaitun itu berhasil menempatkan kebaya sebagai busana kenegaraan yang tetap terlihat formal, elegan dan juga modern.
Warna hijau yang digunakan memberikan kesan tenang, sejuk tetapi sekaligus juga memiliki karakter yang kuat. Dibandingkan dengan warna yang sangat formal seperti hitam atau putih, warna hijau zaitun memberikan nuansa yang lebih humanis dan juga dekat dengan alam.
Baca juga: Hagai Pakan: Tren kebaya mengarah ke padu padan busana modern
Dalam konteks Indonesia, warna hijau juga bisa dibaca sebagai simbol kehidupan, pertumbuhan, harapan dan juga keberlanjutan.
"Namun tentu makna tersebut lebih tepat dipahami sebagai interpretasi visual, bukan berarti kita dapat memastikan bahwa warna tersebut memang sengaja dipilih dengan pesan tersebut," kata dia.
Dari sisi desain, kebaya tersebut memiliki detail tekstur dan juga ornamen yang cukup kaya, tetapi, tetap mempertahankan siluet yang bersih dan tidak berlebihan klasik.
Lisa menilai kebaya untuk forum kenegaraan harus mampu menjaga keseimbangan antara identitas budaya, protokoler dan juga estetika modern.
"Yang menarik bagi saya bagaimana kebaya tersebut tidak tampil sebagai kostum tradisional semata. Siluetnya dibuat lebih mutakhir dan sesuai dengan karakter perempuan modern," kata Lisa.
Baca juga: Pakai jas tree hole bottom, Gibran tampil elegan di Sidang Tahunan MPR
Baca juga: Puan hadiri Sidang Tahunan dengan kebaya brokat hijau olive
Baca juga: Jelang Hari Kebaya Nasional, percaya diri jadi kunci berkebaya
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.