Makanan yang terlihat baik, beraroma normal, dan tidak memiliki rasa aneh belum tentu aman

Jakarta (ANTARA) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dipandang semata sebagai kegiatan menyediakan dan membagikan makanan kepada peserta didik.

Ketika negara memproduksi makanan dalam jumlah besar untuk jutaan penerima manfaat, tanggung jawab pemerintah mencakup kecukupan gizi sekaligus keamanan, higiene, mutu, dan kehalalan pangan. Karena itu, wacana menjadikan guru sebagai pencicip makanan sebelum dikonsumsi siswa perlu ditempatkan secara tepat.

Guru memang berada di titik penerimaan makanan dan dapat berperan penting dalam pengawasan layanan. Namun, mencicipi makanan tidak dapat dijadikan metode ilmiah untuk memastikan makanan bebas dari bakteri patogen, toksin, cemaran kimia, maupun bahaya pangan lainnya.

Persoalan yang lebih mendasar bukan siapa yang mencicipi makanan terlebih dahulu, melainkan seberapa kuat sistem pengendalian pangan bekerja sejak bahan baku diterima di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.

Makanan yang terlihat baik, beraroma normal, dan tidak memiliki rasa aneh belum tentu aman. Karena itu, pemeriksaan sensorik hanya dapat menjadi informasi awal, bukan bukti bahwa makanan telah memenuhi persyaratan keamanan.

Dalam pelaksanaan MBG yang berskala besar, potensi risiko terdapat di sepanjang rantai produksi. Bahaya dapat muncul dari bahan baku, penyimpanan, air, kebersihan personel, peralatan, proses pemasakan, pemorsian, pengemasan, hingga pengangkutan.

Makanan yang telah matang pun masih dapat terkontaminasi kembali apabila ditangani atau disimpan secara tidak tepat.

Prinsip Codex yang dikembangkan FAO dan WHO menempatkan higiene pangan sebagai pengendalian sepanjang rantai pangan, dari bahan baku sampai konsumen, serta merekomendasikan pendekatan berbasis HACCP untuk memperkuat keamanan pangan.

Karena itu, guru sebaiknya tidak ditempatkan sebagai garis pertahanan terakhir. Peran mereka lebih tepat sebagai pengawas layanan dan bagian dari sistem deteksi dini di sekolah.

Guru dapat mencatat waktu kedatangan makanan, kondisi kemasan, kesesuaian menu, keterlambatan distribusi, perubahan karakteristik yang terlihat atau tercium, serta keluhan penerima manfaat.

Jika sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang sama, informasi mengenai menu, waktu konsumsi, jumlah siswa, dan waktu munculnya keluhan dapat menjadi bahan awal bagi investigasi. Guru mengamati dan melaporkan, sedangkan keputusan teknis mengenai keamanan pangan berada pada sistem yang memiliki kompetensi dan kewenangan.

Penguatan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.