fondasi yang sudah dibangun seharusnya tidak ikut dibongkar setiap kali terjadi pergantian
Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 432 atlet dari 35 cabang olahraga akan membawa Merah Putih pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Mereka datang ke pesta olahraga terbesar Asia yang mempertandingkan 469 nomor medali itu dengan satu target yang ringkas: empat emas.
Empat bukan angka yang muncul tanpa perhitungan.
Indonesia meraih tujuh emas pada Asian Games Hangzhou. Namun, tiga nomor yang menjadi sumber emas ketika itu tidak lagi dipertandingkan di Aichi-Nagoya.
Tujuh dikurangi tiga, tersisa empat. Hitungan tersebut antara lain menjadi dasar pemerintah menetapkan empat emas sebagai target realistis di Jepang.
Tidak ada yang salah dengan realistis.
Asian Games bukan SEA Games. China, Jepang, Korea Selatan, India, Uzbekistan, Iran, dan negara-negara lain datang dengan kekuatan terbaiknya.
Tidak seluruh atlet Indonesia juga berangkat untuk memburu emas. Ada yang mengincar medali, memperbaiki peringkat, memecahkan rekor pribadi, atau sedang dibangun menuju Olimpiade.
Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar empat emas.
Setelah hampir tiga tahun sejak Asian Games Hangzhou, apakah hilangnya tiga nomor emas memang harus otomatis membuat target berkurang tiga emas?
Olahraga prestasi seharusnya terus bergerak.
Ketika satu nomor andalan hilang, peluang baru mesti dicari. Ketika atlet senior mendekati akhir karier, penggantinya seharusnya sudah tumbuh.
Ketika persaingan berubah, program pembinaan juga mesti ikut berubah.
Artinya, pekerjaan setelah Hangzhou mestinya bukan sekadar menjaga empat sumber emas yang tersisa.
Indonesia seharusnya juga membangun sumber emas baru.
Di sinilah Asian Games 2026 menarik untuk dibaca, bukan hanya sebagai pertandingan, tetapi juga sebagai cermin pembinaan olahraga Indonesia.
Persiapan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.