alur sepeda baru bisa berfungsi secara optimal apabila memiliki proteksi fisik yang memisahkannya dari kendaraan bermotor, bukan sekadar memanfaatkan marka cat

Jakarta (ANTARA) - Jalur sepeda di Jakarta yang diinisiasi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (periode 2007-2012) dan diwujudkan secara masif dan terintegrasi pada era Gubernur Anies Baswedan dibangun bukan untuk tujuan sepele.

Jalur tersebut dihadirkan untuk memberikan pesepeda ruang jalan aman, nyaman, dan terpisah dari kendaraan bermotor guna mengurangi polusi udara, mengatasi kemacetan, serta mendukung integrasi umum.

Sepekan terakhir, keberadaan jalur sepeda itu menjadi bahan perbincangan warganet melalui media sosial Threads. Ada yang menilai jalur tersebut perlu dihilangkan lantaran tak termanfaatkan dengan baik. Ada juga yang ingin agar jalur sepeda dipertahankan.

Seperti yang disampaikan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, perlu atau tidaknya jalur sepeda di kawasan perkotaan tidak bisa dijawab sekadar ya atau tidak, melainkan bergantung pada fungsi, integrasi, dan komitmen pengelolaannya.

Menurut dia, Jika hanya dibangun sebagai pelengkap formalitas tanpa perencanaan matang, jalur sepeda memang sering kali berakhir tak efektif.

Tetapi, jika direncanakan secara strategis, jalur sepeda adalah investasi jangka panjang yang krusial dalam menunjang mobilitas perkotaan.

Keberadaannya vital untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan memisahkan pesepeda dari kendaraan bermotor berkecepatan tinggi. Dengan begitu, risiko kecelakaan fatal dapat ditekan.

Selain itu, jalur khusus ini menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengurai kemacetan dan menekan emisi karbon dengan mendorong penggunaan transportasi mikro pada jarak dekat.

Tak kalah penting, ketersediaan jalur sepeda yang aman turut merangsang gaya hidup aktif masyarakat sekaligus mewujudkan keadilan aksesibilitas bagi warga yang tidak menggunakan kendaraan bermotor pribadi.

Di samping itu, jalur sepeda berperan penting sebagai solusi first-mile dan last-mile dalam ekosistem transportasi publik.

Menurut Djoko, sepeda merupakan moda pengumpan ideal yang menghubungkan kawasan pemukiman dengan stasiun atau halte transportasi massal, seperti Commuter Line , LRT, MRT, hingga Transjakarta.

Berdasarkan studi People Near Bikeways (PNB) Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) Indonesia, rute jalur sepeda yang terbangun di Jakarta hingga tahun 2022 telah terkoneksi dengan 165 halte Transjakarta, 19 stasiun KRL, 12 stasiun MRT Jakarta, 3 stasiun LRT Jabodebek, dan 2 stasiun LRT Jakarta.

Efisien

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.