Jakarta (ANTARA) -
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya penyakit untuk mulai menangani obesitas.
“Yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu. Jangan berat badan bertambah terus, terus kolesterol naik, kolesterolnya dijadikan bahan obrolan. ‘Gue nggak kerasa apa-apa’. Itu akan menyebabkan nanti menjadi terlambat penanganannya,” kata Erwin dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat.
Ia menyarankan masyarakat menerapkan tiga langkah untuk mengenali risiko obesitas, yakni AMATI, UKUR, dan BERTINDAK.
Pada langkah pertama, masyarakat perlu mengamati perubahan pada tubuh, termasuk ukuran pakaian yang mulai terasa sempit di bagian perut atau lengan.
“Kalau Anda tiba-tiba pakai baju, kok lengannya jadi sempit ya? Perutnya kok jadi sempit? Di kancing baju kok jadi sempit? Nah, itu harus hati-hati,” ujarnya.
Baca juga: Penanganan obesitas tidak cukup hanya kurangi nasi
Setelah itu, masyarakat perlu mengukur berat badan dan lingkar perut secara berkala untuk mengetahui adanya peningkatan risiko kesehatan.
Erwin mengatakan laki-laki dengan lingkar perut mencapai 90 sentimeter atau lebih dan perempuan dengan lingkar perut mencapai 80 sentimeter atau lebih perlu mewaspadai risiko obesitas sentral.
Batas tersebut juga digunakan dalam petunjuk teknis Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan. Obesitas sentral menjadi salah satu kondisi yang perlu dievaluasi lebih lanjut terkait penyakit atau komplikasi yang berkaitan dengan obesitas.
Pada tahap berikutnya, masyarakat perlu bertindak dengan melakukan perubahan gaya hidup dan mencari informasi kesehatan dari sumber yang dapat dipercaya. Bila diperlukan, masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Erwin mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis untuk melakukan pemeriksaan, termasuk mengetahui kondisi tekanan darah dan gula darah.
Program Cek Kesehatan Gratis pada 2026 juga difokuskan pada tindak lanjut hasil pemeriksaan bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan, sehingga skrining tidak berhenti pada proses pemeriksaan semata.
“Setelah itu semua, maka Anda harus bertindak,” kata Erwin.
Ia menambahkan penanganan obesitas perlu dilakukan sedini mungkin dan tidak perlu menunggu hingga muncul penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan metabolik lainnya.
Baca juga: Lemak di perut tingkatkan risiko diabetes hingga penyakit jantung
Baca juga: Dokter: Obesitas tingkatkan risiko penyakit ginjal pada anak
Baca juga: Satu botol minuman manis bisa penuhi hampir separuh batas gula harian
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.