Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Muhammad Syaroni Rofii menilai energi menjadi sektor krusial yang perlu diperkuat pemerintah di tengah konflik geopolitik, perang dagang, dan gangguan rantai pasok global.

“Energi menjadi salah satu sektor yang perlu diperkuat karena memiliki banyak turunan. Energi dapat menggerakkan industri dan mobilitas masyarakat,” kata Syaroni kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Ia menilai ketergantungan impor membebani APBN sehingga pemerintah perlu mempercepat pengembangan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Menurut dia, langkah itu dapat mempertimbangkan pengalaman sejumlah negara, seperti China dan Arab Saudi, yang telah mendorong pengembangan sumber energi alternatif.

Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, Indonesia harus beradaptasi dengan realitas tersebut dengan mengedepankan kemitraan yang saling menguntungkan dengan kedua negara itu, katanya.

Baca juga: Atasi gejolak energi, RI andalkan sumber minyak alternatif Afrika

“Pada saat yang sama, Indonesia harus mengurangi ketergantungan impor. Produk yang dapat dibuat di dalam negeri harus diprioritaskan untuk menopang kemandirian, sekaligus menempatkan ASEAN sebagai perisai bersama di kawasan,” ujarnya.

Ia juga menilai Indonesia perlu mengidentifikasi kepentingan nasional yang mendesak dan menjadikan politik luar negeri sebagai instrumen untuk mencapainya.

“Saya melihat Indonesia berpotensi memainkan peran di kawasan maupun tingkat global. Hal itu harus didukung diplomasi yang lincah dan adaptif,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan perubahan geopolitik dalam lima tahun terakhir mendorong negara-negara semakin mengutamakan kepentingan nasional dan menyiapkan alternatif kebijakan.

“Pandemi COVID-19, perang dagang AS-China, serta perang AS-Iran menjadi variabel tersebut. Saya kira pendekatan Presiden Prabowo dalam menavigasi politik luar negeri Indonesia tidak lepas dari variabel tersebut,” katanya.

Baca juga: Indonesia-Australia perkuat ketahanan energi di tengah krisis

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.