Ceuta (ANTARA) - Otoritas di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, menerapkan rencana sembilan poin untuk memperkuat pengawasan kesehatan masyarakat dan lingkungan menyusul masuknya migran secara massal baru-baru ini, demikian disampaikan oleh otoritas setempat pada Sabtu (15/8).

Menurut pemerintah Spanyol, lebih dari 72.000 migran masuk secara ilegal ke Ceuta dari negara tetangga, Maroko, pada 30 dan 31 Juli. Sebagian besar migran kemudian kembali ke Maroko, sementara ribuan lainnya masih berada di wilayah kantong tersebut.

Rencana tersebut mencakup peningkatan pengawasan terhadap tuberkulosis, perluasan pemantauan kualitas air minum dan perairan pesisir, serta peningkatan kegiatan pembersihan, disinfeksi dan pengangkutan sampah. Lebih dari 100 pekerja tambahan telah dikerahkan untuk menangani tugas-tugas sanitasi dan pengawasan lingkungan.

Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Minggu (16/8) untuk meninjau dampak masuknya migran terhadap layanan kesehatan setempat. Dalam kunjungan tersebut, Garcia diperkirakan akan bertemu dengan pejabat pemerintah daerah dan pusat, perwakilan tenaga medis dan organisasi sosial, serta mengunjungi sebuah pusat kesehatan dan Rumah Sakit Universitas Ceuta.

Menurut pemerintah Spanyol, lebih dari 72.000 migran masuk secara ilegal ke Ceuta dari negara tetangga, Maroko, pada 30 dan 31 Juli. Sebagian besar migran kemudian kembali ke Maroko, sementara ribuan lainnya masih berada di wilayah kantong tersebut.

Keamanan di sepanjang perbatasan juga diperketat menjelang Sabtu setelah seruan untuk kembali melakukan penyeberangan secara massal beredar di media sosial. Pasukan keamanan Maroko mencegat ratusan migran yang berupaya mencapai kawasan perbatasan, sementara Ceuta melaporkan tidak terjadi arus masuk migran dalam skala yang sebanding dengan yang terjadi akhir Juli lalu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.