Kami menyiapkan rute yang jelas dan memastikan area terbatas tetap tertutup untuk menjaga keamanan istana,

Penajam Paser Utara (ANTARA) - Sebanyak 210 anak tangga beton kelabu berjejer rapi, membelah bukit hijau yang menjadi singgasana bagi Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bagi setiap pasang kaki yang datang, jalur ini bukan sekadar akses masuk, melainkan sebuah ujian fisik sekaligus pengantar menuju mahakarya arsitektur Nusantara.

Dikenal dengan nama Tangga Demokrasi, jalur ikonik ini menjulang dari halaman pertama yang sejajar jalan utama hingga ke lantai dasar bangunan.

Struktur ini dirancang terjal, menanjak dinamis dari elevasi sekitar 40 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuju puncak bukit di ketinggian kurang lebih 80 mdpl.

"Kita jadi mempertanyakan kebugaran kita,” kata Tyas, jurnalis asal Jakarta yang berkunjung ke kompleks istana tersebut.

Sambil menyeka keringat, ia terpaksa berhenti sejenak di anak tangga ke-50 untuk mengatur napas sebelum kembali melangkah.

Di sisi kanan dan kiri tangga terjal itu, tampak beberapa pengunjung lain memilih menyerah dan beralih menggunakan eskalator yang sengaja disembunyikan di balik rimbunnya lanskap hijau.

Di balik letihnya langkah kaki, sang arsitek Daliana Suryawinata ternyata menyimpan alasan filosofis yang kuat.

Desain rumah dinas orang nomor dua di Indonesia ini merujuk pada konsep rumah lamin atau lou, yakni rumah panjang tradisional yang menjadi tempat tinggal bersama keluarga suku Dayak Kenyah, Bahau, dan Benuaq di Kalimantan Timur.

Rumah betang

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.