Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyampaikan harapan kondisi Aceh sudah kondusif dan semua pihak dapat menjaga suasana agar tetap kedamaian pascakericuhan saat peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh.
"Mudah-mudahan suasana di Aceh sudah kondusif dan semua pihak menjaga ketenangan, ketentraman dan kedamaian," ujar Menko Kumhamimipas Yusril Ihza Mahendra usai mengikuti Upacara HUT Ke-81 Republik Indonesia di Jakarta pada Senin.
Dia menyebut pihaknya menghormati semua elemen masyarakat di Aceh yang sama-sama mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Dan tentu juga kita akan bekerja bersama-sama mengatasi berbagai kekurangan yang terdapat di dalam masyarakat. Yang menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki keadaan," kata Yusril.
Seruan itu dikeluarkan setelah sebelumnya kericuhan terjadi dalam kegiatan zikir dan doa bersama memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman pada Sabtu (15/8).
Baca juga: Menko Polkam ajak jaga perdamaian Aceh dan kondusivitas Papua
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah massa mengibarkan Bendera Bulan Bintang yang identik dengan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kericuhan kemudian terjadi ketika aparat keamanan melakukan penertiban terhadap aksi tersebut.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, di Banda Aceh, Senin, menyampaikan bahwa peringatan HUT Ke-81 RI di wilayah itu berlangsung dengan aman tanpa gangguan. Dia juga meminta kepada masyarakat Aceh untuk tetap menjaga kedamaian.
"Kami berharap kepada seluruh masyarakat Aceh di manapun berada, mari kita jaga kedamaian, ketenangan, dan yang paling utama sesama kita rakyat Aceh mari bahu membahu mewujudkan Aceh yang sejahtera dan makmur," ujarnya.
Baca juga: Aceh minta kepastian Mendagri soal Bendera Bulan Bintang
Baca juga: Pemprov tegaskan perayaan HUT RI di Aceh berlangsung aman dan damai
Baca juga: Merawat damai Aceh, merawat Indonesia
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.