Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Barat menyasar tiga kelurahan dalam pelaksanaan program Kelurahan Cinta Statistik (Cantik) pada 2026.

"Tahun ini tahun keempat, kita sasar tiga kelurahan, yakni Srengseng, Kebon Jeruk, dan Rawa Buaya,," kata Kepala BPS Jakbar, Muhammad Noval, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Melalui program tersebut, BPS Jakbar melakukan pembinaan statistik kepada perangkat kelurahan.

Noval pun merinci tiga tujuan program tersebut. Pertama, untuk meningkatkan kemampuan aparatur kelurahan untuk melaksanakan kegiatan statistik.

"Kedua, supaya bisa ​memanfaatkan data-data yang ada di kelurahan agar bisa lebih berdaya guna dan bermanfaat. Ketiga, meningkatkan literasi statistik, seperti cara membaca, memahami hingga menyajikan data statistik," ujarnya.

​Adapun masing-masing kelurahan memiliki topik pembinaan khusus sesuai kebutuhan wilayah bersangkutan.

"Untuk Kelurahan Rawa Buaya, kita mengangkat tema tentang kelompok disabilitas, Kelurahan Srengseng tentang bank sampah, sementara Kebon Jeruk tentang penanganan stunting," tutur Noval.

Baca juga: Sensus ekonomi di Jakarta Barat capai 92 persen

Khusus untuk Kelurahan Rawa Buaya, kata Noval, pelatihan pendataan statistik warga disabilitas dilakukan untuk membangun konektivitas dan kesadaran publik.

"Jadi melalui data, masyarakat luas jadi tahu bahwa di Rawa Buaya terdapat kelompok disabilitas beserta berbagai kegiatan yang sudah mereka lakukan," katanya.

Menurutnya, dengan menginformasikan keberadaan dan aktivitas mereka secara terdata, akses bagi warga penyandang disabilitas dapat terbuka lebih luas.

"Masyarakat atau pihak lain yang mau berpartisipasi atau beri bantuan itu bisa bergerak secara tepat sasaran," tutur Noval.

Sementara itu, topik pendataan bank sampah bagi Kelurahan Srengseng dilakukan untuk mengekspos keberadaan bank sampah. "Mulai dari jumlah unit, kapasitas pengolahan, hingga manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi warga," ujarnya.

Topik pendataan stunting bagi Kelurahan Kebon Jeruk dipilih untuk mengekspos data stunting di wilayah tersebut. ​"Kebon Jeruk ini kan kawasan perkotaan dan area bisnis, kenyataannya kasus stunting masih ada. Data nanti disajikan untuk membuka mata publik dan pemerintah kalau masalah ini perlu perhatian khusus," kata Noval.

Dengan adanya data tersebut, maka akan ada program CSR atau bantuan dari perusahaan swasta sekitar untuk membantu penanganan stunting.

"​Seluruh data dari kelurahan-kelurahan tersebut dikemas dan disajikan dalam bentuk infografis, profil wilayah, hingga penerbitan majalah kelurahan," tuturnya.

Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 di Jakbar capai 57,33 persen hingga Juli

Baca juga: BPS Jakbar tegaskan data Sensus Ekonomi untuk pemetaan potensi ekonomi

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.