Jakarta (ANTARA) - Indonesian Fashion Chamber (IFC) tengah mengembangkan sejumlah proyek yang berkaitan dengan penguatan ekosistem fesyen Indonesia seperti Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Fashion Indonesia.

“Proyek ini bukan hanya mengenai sertifikasi, tetapi bagaimana kita membangun standar kompetensi SDM Fashion Indonesia agar memiliki kompetensi yang lebih terukur dan juga profesional,” kata salah satu founder IFC Lisa Fitria kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Lisa mengatakan LSP Fashion Indonesia dikembangkan dengan lima skema kompetensi, yakni Assistant Fashion Designer, Junior Fashion Designer, Fashion Designer, Fashion Stylist, dan Creative Director.

Baca juga: IFC: Industri "modest fashion" perlu lebih banyak dukungan pemerintah

Menurut dia, LSP Fashion Indonesia tersebut menjadi LSP Fashion Indonesia pertama yang memiliki lima skema di bidang kreatif fesyen.

Selain pengembangan LSP, Lisa juga tengah mengembangkan gagasan fesyen yang memadukan fesyen berkelanjutan, luxury, modest fashion dan gaya hidup. Salah satu gagasan tersebut diarahkan pada pengembangan merek yang menyasar kebutuhan busana dan gaya hidup untuk perjalanan umrah dan haji.

“Konsepnya adalah bagaimana kebutuhan ibadah dapat diterjemahkan menjadi produk fesyen yang modern, berkualitas, berkelanjutan dan juga memiliki positioning yang global,” ujarnya.

Lisa mengatakan dirinya memiliki mimpi untuk mengembangkan merek tersebut hingga memiliki toko atau outlet yang tersebar di berbagai negara.

“Itu salah satu mimpi yang sekarang mulai kami bangun,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Lisa menyampaikan rencananya ke depan untuk menggelar peragaan busana koleksi terbarunya pada Oktober dengan berkolaborasi bersama artisan batik.

Ia mengatakan koleksi tersebut akan menampilkan batik dengan motif polkadot yang dibuat secara kontemporer dan dipadukan dengan motif-motif batik lainnya yang juga dikembangkan secara kontemporer.

Peragaan busana tersebut akan digelar dalam Into Motion Fest, yang merupakan rangkaian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang diprakarsai Bank Indonesia bekerja sama dengan Indonesian Fashion Chamber.

Lisa mengatakan berbagai proyek yang dikembangkan IFC memiliki benang merah yang sama, yakni mendorong fesyen Indonesia tidak hanya menghasilkan produk yang indah, tetapi juga membangun nilai identitas, kompetensi, dan keberlanjutan.

Dia berharap karya dan proyek yang dikembangkan tidak berhenti pada penciptaan busana, tetapi turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan industri fesyen Indonesia secara lebih luas.

Ia juga berencana mengambil pendidikan S2 jurusan industri kreatif pada tahun ini. Dalam penelitian tersebut, Lisa ingin menggali peta jalan busana muslim di Indonesia untuk menjadi pusat modest sustainable dunia.

Baca juga: Tiga desainer tampilkan "Quiet Defiance" di JF3 Fashion Festival 2026

Baca juga: IFC perkuat wastra di pasar Eropa melalui Front Row Paris 2025

Baca juga: Kemendikbud-IFC jembatani karya busana siswa SMK go international

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.