Jakarta (ANTARA) – Keinginan menurunkan berat badan secara cepat dapat mendorong masyarakat menjalani diet ekstrem hingga mengonsumsi obat pelangsing yang belum terjamin keamanannya. Dokter mengingatkan, penanganan obesitas membutuhkan pendekatan berbasis medis dan tidak dapat mengandalkan hasil instan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya dr Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, Sp.GK mengatakan pembatasan asupan makanan secara berlebihan masih menjadi salah satu kesalahan yang kerap dilakukan dalam upaya menurunkan berat badan.

“Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja,” ujar Prinindita dalam Health Corner bertema “Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal”, Jumat (14/8).

Menurut dia, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi secara optimal. Karbohidrat diperlukan sebagai salah satu sumber energi, sementara protein, lemak, serat, vitamin dan mineral juga memiliki peran masing-masing.

Karena itu, pola makan untuk menurunkan berat badan perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, termasuk kebutuhan energi, kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.

“Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalized diet untuk setiap masing-masing individu,” katanya.

Ia menambahkan, obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang berkembang secara bertahap dan dipengaruhi berbagai faktor, bukan semata-mata akibat kurangnya disiplin seseorang dalam menjaga pola makan.

Faktor genetik, gaya hidup, penggunaan obat tertentu hingga gangguan hormonal seperti hipotiroid dan sindrom Cushing dapat berkontribusi terhadap obesitas.

Oleh sebab itu, evaluasi terhadap kondisi pasien tidak cukup hanya berdasarkan angka pada timbangan. Dokter juga perlu menilai komposisi tubuh serta kemungkinan adanya penyakit penyerta sebelum menentukan penanganan.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof Dr dr Taruna Ikrar, M.Biomed mengingatkan masyarakat tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, terutama yang menawarkan hasil penurunan berat badan secara cepat melalui media sosial.

Promosi oleh influencer, kata dia, dapat disertai klaim berlebihan atau overclaim. Review di media sosial juga tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menggunakan obat penurun berat badan.

“Pastikan cek KLIK, kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa,” ujar Taruna.

Cek KLIK merupakan langkah yang dapat dilakukan masyarakat sebelum membeli produk kesehatan, yakni memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluwarsa.

Taruna juga mengingatkan masyarakat agar mencermati informasi pada kemasan, termasuk barcode. Apabila pemindaian barcode justru mengarahkan konsumen ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.

Penggunaan obat penurun berat badan juga harus disesuaikan dengan ketentuan. Untuk obat yang memerlukan resep, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya.

Penanganan obesitas sendiri tidak hanya mengandalkan obat. Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr Riyanny Meisha Tarliman mengatakan perubahan gaya hidup merupakan salah satu pilar utama, sementara terapi farmakologi dapat diberikan apabila memang diperlukan.

Pada kondisi tertentu, tindakan operasi bariatrik juga dapat menjadi pilihan. Penentuan terapi harus mempertimbangkan kondisi setiap pasien, termasuk komposisi tubuh dan penyakit penyerta seperti diabetes maupun gangguan kardiovaskular.

“Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai,” kata Riyanny.

Ia menekankan obesitas tidak dapat ditangani dengan pendekatan serba cepat karena merupakan kondisi kronis yang berkembang dalam jangka panjang.

“Pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan dampak dan manfaat jangka panjang,” tuturnya.

Prinindita menambahkan, perubahan gaya hidup juga perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Aktivitas fisik harus disesuaikan dengan kondisi tubuh agar tidak menimbulkan masalah baru, terutama bagi pasien yang telah memiliki gangguan kesehatan tertentu.

“Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istiqamah, dan juga komitmen,” pungkasnya.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.