counter

Mobil sapu angin ITS terbakar di London

Mobil sapu angin ITS terbakar di London

Dua orang mahasiswa mempersiapkan mobil sapu angin 6 ketika berlangsung nya ITS Expo 2015 di Graha Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Rabu (21/10). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Surabaya (ANTARA News) - Mobil Sapu Angin ITS Surabaya yang awal Maret lalu menjadi juara Asia dalam ajang EcoShell Marathon Challenge Asia 2016 di Filipina, Rabu (28/6) pagi, terbakar, meski sudah tiba di London untuk mengikuti kejuaraan dunia.

Dosen Pembimbing Tim Sapu Angin ITS Ir. Witantyo M.Eng.Sc dalam surat elektronik dari London, melaporkan mobil itu rencananya mewakili Indonesia dalam ajang Divers World Championship (DWC) di Stadion Olompic, London pada 30 Juni hingga 3 Juli mendatang.

"Tapi, Sapu Angin akhirnya batal mengikuti kompetisi tingkat dunia DWC yang pertama kali diadakan sejak 30 tahun diselenggarakan Shell Eco-Marathon itu, karena mobil terbakar," kata dosen yang mendampingi tujuh mahasiswa anggota Tim Sapu Angin ke London.

Berdasarkan jadwal, Sapu Angin akan berlaga dengan para juara dari tiga benua, yakni Asia, Eropa, dan Amerika. Lomba tidak hanya pada konsumsi penggunaan bahan bakar yang irit, tapi juga adu kecepatan.

Asia diwakili oleh lima tim, yakni tiga tim dari Indonesia, ITS, UI, dan UPI, lalu dua tim lainnya dari Singapura dan Filipina.

"Kebakaran diketahui saat petikemas mobil Sapu Angin akan diturunkan dari truk pengangkut di arena lomba. Kami melihat saat akan diturunkan sudah terlihat asap mengepul, kami curiga ada sesuatu yang tidak beres. Dugaan kami benar, mobil dalam petikemas sudah terbakar," katanya.

Hingga kini, pihaknya masih mencari penyebab terbakarnya mobil Sapu Angin itu. "Yang jelas, tim Sapu Angin merasa sangat terpukul atas kejadian ini dan tidak menduga musibah ini bisa terjadi," katanya.

Pihaknya masih menyemangati tim yang belum bisa menerima kenyataan pahit itu. "Yang jelas, kami sudah tidak bisa lagi turun di arena lomba," katanya.

Secara terpisah, Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MSc.ES PhD menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan itu.

"Kami mohon maaf atas dukungan seluruh masyarakat Indonesia. Ini ujian terberat bagi kami. Sesungguhnya segala sesuatu yang berasal dari Allah akan kembali kepada-Nya. Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian," katanya.

Ia berharap para mahasiswa tetap semangat dan bersabar serta bersyukur. "Semoga, ada jalan terbaik untuk Sapu Angin, Aamiin," katanya.

Pewarta: Edy M Ya`kub
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar