Bogota (ANTARA) - Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella pada Rabu (19/8) waktu setempat menandatangani dekret yang menetapkan status darurat ekonomi, sosial, dan ekologis dengan durasi 30 hari di sejumlah wilayah yang terdampak gempa bumi 10 Agustus 2026.

Dekret yang ditandatangani setelah rapat kabinet di Bogota tersebut mencakup 15 departemen terdampak, termasuk Valle del Cauca, Risaralda, dan Caldas, seiring pemerintah Kolombia berupaya merespons apa yang mereka sebut sebagai bencana publik yang parah.

De la Espriella mengatakan bahwa langkah-langkah darurat tersebut tidak hanya bertujuan untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak, tetapi juga memulihkan kegiatan usaha dan infrastruktur publik yang penting, termasuk sekolah dan rumah sakit.

Kolombia menghadapi situasi fiskal "paling kompleks" dalam sejarah republiknya, sehingga langkah-langkah luar biasa perlu dilakukan, ujar De la Espriella.

Presiden Kolombia juga mengatakan pemerintahannya akan memangkas pengeluaran untuk sejumlah program nonprioritas dari pemerintahan sebelumnya guna memenuhi kebutuhan nasional saat ini, sembari memastikan bahwa masyarakat yang paling rentan tidak terdampak.

Menurut data yang dirilis oleh Unit Nasional untuk Manajemen Risiko Bencana Kolombia hingga Rabu (19/8) malam waktu setempat, gempa bumi bermagnitudo 7,4 di wilayah barat Kolombia telah menewaskan 319 orang dan melukai 4.469 orang, sementara 260 lainnya dinyatakan hilang. Sebanyak 364 orang telah berhasil diselamatkan.

Badan tersebut mengatakan bahwa 476 wilayah administratif di 15 departemen telah terdampak, dengan sekitar 272.830 orang terkena dampak bencana tersebut.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.