Jakarta (ANTARA) - Kemampuan berhenti sejenak dan menilai kembali respons sebelum bereaksi dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik, menurut penelitian terbaru dari University of Sydney.
Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang dipimpin Riley Leckie dan tim menyoroti peran metakognisi atau kemampuan seseorang untuk memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri dalam kecerdasan emosional.
Kemampuan tersebut membantu seseorang mengenali perubahan perasaan, menilai intensitas dan penyebabnya, serta menentukan kapan emosi perlu diatur.
Baca juga: Psikolog jelaskan mekanisme otak saat emosi berujung kekerasan
Peneliti mula-mula menguji hubungan antara kemampuan metakognitif dan pengelolaan emosi. Hasil awal hanya menunjukkan bukti yang lemah mengenai hubungan keduanya.
Namun, pada penelitian berikutnya, peserta diminta menilai tingkat keyakinan mereka terhadap jawaban dalam sejumlah situasi yang menguji kemampuan mengelola emosi.
Hasilnya menunjukkan bahwa tindakan sederhana berupa menilai kembali seberapa yakin seseorang terhadap responsnya dapat meningkatkan kualitas cara mereka merespons situasi emosional.
Baca juga: Jeda akses informasi bisa bantu kurangi kecemasan
Peneliti menilai proses tersebut dapat mendorong seseorang untuk berpikir lebih dalam, memperhatikan isyarat emosional yang relevan, dan mempertimbangkan apakah strategi yang dipilih sudah sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Dengan kata lain, seseorang dapat memberi jeda sebelum bereaksi dan bertanya pada diri sendiri apakah respons yang akan dilakukan merupakan pilihan terbaik.
Misalnya, ketika merasa marah setelah seorang teman membatalkan janji secara mendadak, seseorang dapat menahan diri sebelum mengirim pesan bernada emosional.
Baca juga: Psikolog ingatkan masyarakat pentingnya melatih regulasi emosi
Jeda tersebut dapat digunakan untuk mempertimbangkan kemungkinan lain dan memilih cara yang lebih tepat untuk menyampaikan kekecewaan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa mengelola emosi tidak selalu membutuhkan proses yang rumit. Membiasakan diri untuk memantau respons dan mengevaluasinya sebelum bertindak dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik saat menghadapi situasi emosional.
Baca juga: Kenali tahapan anak ekspresikan emosi sesuai usianya
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.