Dari kesepakatan bersama tersebut kita ingin ada nilai tambah bagi Kaltim. Karena Kaltim ini punya bahan baku sarang burung walet yang besar

Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggandeng perusahaan swasta di Jawa Tengah untuk melakukan investasi pengolahan sarang burung walet di daerah itu guna mendongkrak pendapatan asli daerah dari sektor non minyak dan gas bumi.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji dalam keterangan di Samarinda, Minggu, mengatakan sebagai salah satu daerah penghasil sarang burung walet, Kaltim perlu mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari pengolahan komoditas tersebut.

Kehadiran industri pengolahan di daerah itu dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan daerah.

"Nilai omzet cukup besar, sekitar Rp50 miliar-Rp60 miliar per bulan, ini bisa menjadi tambahan pendapatan daerah Kaltim ke depan. Yang bagus lagi, tenaga kerja yang dibutuhkan sangat banyak sehingga kita bisa mengurangi pengangguran di Kaltim," kata Seno Aji usai melakukan kunjungan ke perusahaan pengolahan sarang burung walet, PT Esta Indonesia Tbk (NEST) di Terboyo Industrial Park Kota Semarang, Jawa Tengah.

Peninjauan tersebut, lanjut dia, sebagai tindak lanjut penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dilakukan oleh masing-masing gubernur di Samarinda pada awal Agustus 2026.

"Dari kesepakatan bersama tersebut kita ingin ada nilai tambah bagi Kaltim. Karena Kaltim ini punya bahan baku sarang burung walet yang besar," ungkap Seno.

Baca juga: Barantin evaluasi unit usaha sarang walet agar kembali ekspor ke China

Baca juga: RealCo: Hilirisasi sarang walet buka peluang nilai tambah ekspor RI

Dalam kunjungan tersebut, Wagub Seno Aji diterima langsung oleh Direktur Utama sekaligus pendiri PT Esta Indonesia Tbk Hoo Anton Siswanto, bersama Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari dan Kabid Pengawasan DPMPTSIP Jateng Primasto Adi Wartono.

Seno Aji mendengarkan paparan mengenai proses bisnis perusahaan sekaligus melihat langsung tahapan pengolahan sarang burung walet, mulai dari pencucian bahan baku hingga proses pengemasan sebelum diekspor ke sejumlah negara. Perusahaan tersebut diketahui telah beroperasi sejak 1993.

"Melalui kunjungan ini, kami berharap PT Esta Indonesia sebagai investor pencucian dan eksportir sarang walet bisa membangun fasilitas pencucian untuk ekspor langsung sarang walet di Kaltim. Mengenai teknisnya nanti, apakah bekerja sama dengan perusahaan daerah atau bagaimana pola investasi, tentu bisa kita rundingkan," jelasnya.

Sementara itu Hoo Anton Siswanto menyambut baik keinginan Wagub Kaltim Seno Aji agar pihaknya melakukan investasi pembangunan fasilitas pencucian dan pengolahan sarang burung walet di Kaltim.

Anton mengatakan, pihaknya saat ini telah memiliki sejumlah rumah burung walet di Kaltim, antara lain di Handil, Muara Badak dan Marangkayu.

"Kami siap bekerja sama. Bisa kirim orang ke sini untuk pelatihan, akan kita ajari, kemudian bisa kembali ke Kaltim untuk menerapkan ilmunya. Bisa cari lahan yang di sekitarnya banyak tenaga kerja, kemudian kita bangun pabrik pencucian serta pengolahan sarang burung walet di Kaltim," ucap Anton.

Berdasarkan data terbaru dari Balai Karantina Kalimantan Timur, produksi sarang burung walet di Provinsi Kalimantan Timur mencapai sekitar 176,524 ton per tahun.

Komoditas ini dihasilkan dari sekitar 4.640 rumah walet yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten/kota di Kaltim.

Nilai jual yang tinggi menjadikan sarang burung walet sebagai salah satu produk ekspor unggulan utama dari Kalimantan Timur, dengan negara tujuan utama seperti China dan Australia.

Baca juga: Barantin perkuat pengawasan guna jaga akses ekspor ke China

Baca juga: Barantin upayakan perbaikan tata kelola ekspor sarang burung walet

Pewarta: Arumanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.