Pemerintah terus memperkuat pengelolaan pekerja migran dari hulu hingga hilir, termasuk pemberdayaan setelah pekerja kembali ke Indonesia
Taipei (ANTARA) - Bagi sebagian pekerja migran Indonesia, kepulangan dari Taiwan bukan akhir perjalanan mencari penghidupan. Pengalaman kerja, kemampuan bahasa, dan keterampilan yang diperoleh di luar negeri dapat menjadi bekal untuk membangun karier baru di Tanah Air.
Potensi itu cukup besar mengingat Taiwan menjadi salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia. Data Departemen Tenaga Kerja Taiwan menunjukkan, sebanyak 329.586 pekerja Indonesia berada di Taiwan pada akhir Maret 2026.
Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis berubah menjadi peluang ekonomi setelah kepulangan. Ketersediaan pekerjaan yang sesuai, kemampuan beradaptasi, serta dukungan bagi mereka yang pernah bekerja di luar negeri menjadi faktor penting agar pengalaman migrasi memberikan manfaat lebih panjang.
Senior Migrant Education Specialist One-Forty, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan pekerja migran di Taiwan, Elhana Sugiaman, mengatakan sejumlah alumni yang didampinginya mampu memanfaatkan pengalaman kerja di Taiwan untuk membangun karier di Indonesia.
Salah satunya bekerja di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai pekerja dwibahasa setelah menyelesaikan masa kerja di Taiwan. Pengalaman itu kemudian membawanya bekerja sebagai penerjemah di Jakarta sebelum akhirnya kembali ke Subang, Jawa Barat.
“Dia mampu mendapatkan pekerjaan sebagai penerjemah di Sulawesi. Karena itu, dia kemudian mendapatkan pekerjaan di Jakarta sebagai penerjemah. Sekarang dia kembali ke Subang karena telah memperoleh pengalaman sebagai pekerja dwibahasa di sejumlah perusahaan di Indonesia,” ujar Elhana, warga negara Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Elhana dalam pertemuan dengan delegasi media dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southbound Policy/NSP) Taiwan di Kantor One-Forty di Taipei, Sabtu.
Menurut dia, kemampuan bahasa dan pengalaman bekerja di lingkungan perusahaan asing dapat menjadi nilai tambah bagi eks-pekerja migran ketika kembali memasuki pasar kerja Indonesia.
Sejumlah alumni One-Forty memilih mencari pekerjaan di wilayah dengan aktivitas industri yang berkembang daripada langsung kembali ke daerah asal. Morowali, misalnya, memiliki banyak perusahaan asing dan membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjembatani komunikasi dalam bahasa asing.
Kisah tersebut menunjukkan manfaat migrasi tidak harus berhenti pada remitansi. Keterampilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri juga dapat menjadi modal untuk memasuki sektor ekonomi yang membutuhkan kompetensi tersebut.
Kompetensi sebagai bekal
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.