Di lereng Rinjani, alam tidak hanya menjadi latar bagi kehidupan masyarakat
Lombok Timur (ANTARA) - Puncak kemarau membuat udara dingin terasa menggigit di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada awal Agustus.
Di halaman rumah sederhana yang diselimuti rumput gajah berwarna kecokelatan akibat musim kering, Hajrul Azmi duduk di depan meja kayu. Di sekelilingnya terhampar lahan pertanian, bukan tembok beton keras yang monoton.
Sore itu, Azmi tidak buru-buru. Dari area coffee bar yang bersatu dengan teras rumah, suara grinder terdengar nyaring seperti mantra yang menyihir gendang telinga.
Biji kopi arabika yang disangrai dua hari lalu pecah menjadi bubuk kasar. Aroma khas seketika menyeruak tajam dan menampar udara dingin pegunungan.
Perangkat seduh manual ditata di meja kayu yang dilapisi cat hitam. Teko leher angsa yang menyimpan air bersuhu 93 derajat celcius menuntun aliran agar jatuh lembut ke kertas dripper yang menampung bubuk kasar kopi arabika.
Ketika air pertama membasahi bubuk, kopi itu seolah bernapas, menggelembung dan mekar mengeluarkan karbon dioksida sisa proses pemanggangan. Lalu perlahan, tetes demi tetes cairan berwarna cokelat pekat jatuh ke dalam wadah kaca di bawahnya.
Arabika Sembalun bukan sekadar kopi yang ditanam pada tanah vulkanik Gunung Rinjani. Ada karakter rasa dan aroma alami gula aren, karamel, serta asam jawa yang berpadu dalam setiap tegukan.
Kopi menjaga lanskap
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.