Pelayar Selandia Baru siap ke Indonesia

Pelayar Selandia Baru siap ke Indonesia

Kru perahu layar Even Karma berbendera Australia peserta lomba layar Darwin-Ambon Yacht Race 2014 memperbaiki layar perahunya saat berlabuh di pesisir Pantai Desa Amahusu, Ambon, Maluku, Jumat (29/8). (ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan)

Jakarta (ANTARA News) - Komunitas pelayar terbesar dari Selandia Baru, Royal New Zealand Yacht Squadron yang berdiri sejak tahun 1859, siap berlayar dengan kapal layar ke Indonesia untuk menyukseskan Wonderful Sail 2 Indonesia Rally dan Sail Karimata 2016.

"Alamnya indah, penduduknya ramah, dan yang lebih penting lagi, Indonesia bebas dari angin topan," kata Commodore Royal New Zealand Yacht Squadron Andy Anderson sebagaimana disampaikan dalam keterangan dari Kementerian Pariwisata di Jakarta, Jumat.

Kementerian Pariwisata pada 21 Juni lalu di Auckland, Selandia Baru, mempromosikan perjalanan wisata yacht (kapal layar) keliling perairan Indonesia melalui penyelenggaraan Wonderful Sail 2 Indonesia Rally pada 21 Juli hingga 24 Oktober 2016 dan puncak acara "Sail Karimata" di Kalimantan Barat pada tanggal 6 hingga 9 Oktober 2016.

Tim dari Kementerian Pariwisata mempromosikan wisata kapal layar di hadapan pengurus Royal New Zealand Yacht Squadron yang merupakan komunitas yachter terbesar di Selandia Baru dengan keanggotaan dari berbagai penjuru dunia, berjumlah sekitar 25 ribu anggota.

Komunitas itu sudah berdiri sejak 1859. Beragam kegiatan rally dan balapan kapal layar tingkat dunia tidak pernah absen diselenggarakan oleh komunitas itu.

Disebutkan bahwa kaum jetset dunia banyak yang menjadi anggotanya. Sejumlah sultan dan pangeran Timur Tengah juga ikut menjadi anggota komunitas yang berada di sekitar Auckland Harbour Bridge itu.

Andy Anderson juga merekomendaskan seluruh anggotanya dari berbagai belahan dunia untuk berlayar ke Indonesia.

Salah seorang anggota Royal New Zealand Yacht Squadron, Nathan Mitchell, bahkan langsung membatalkan rencana berlayar ke Fiji.

"Indonesia sepertinya sangat menarik. Saya putuskan Agustus nanti tidak jadi ke Fiji. Saya pilih berlayar ke Indonesia. Saya juga ingin masuk ke hutan, lihat kehidupan satwa liar, bahkan nanti saya akan ikut mengajar warga pedalaman," kata Nathan.

"Silakan berlayar Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia. Kami punya Sail Karimata dan Wonderful Sail 2 Indonesia," kata Raymond Lesmana, anggota Tim dari Kementerian Pariwisata yang juga pengamat kemaritiman, kepada komunitas itu.

Ia menyebutkan rangkaian acara Sail Karimata 2016 akan dikunjungi tak kurang dari 15 ribu wisatawan, terdiri atas 5.000 wisatawan mancanegara dan 10.000 wisatawan dalam negeri. Pesertanya, bisa menjelajah empat provinsi sekaligus yakni Jambi, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat.

Sementara kegiatan Wonderful Sail 2 Indonesia Rally malah lebih dahsyat lagi. Selama tiga bulan, peserta rally dapat berlayar di lokasi eksotis, dari timur hingga barat Indonesia.

Jadwalnya dari Tual ke Banda Neira pada 21-25 Juli, lalu di Namrole, Pulau Buru, pada 2-5 Agustus, lalu berlayar lagi ke Wanci (Wakatobi), Lowoleba (Lembata), Pulau Adonara dan ke Maumere, Maurole, Ruing, dan Labuan Bajo di Pulau Flores hingga 3 September.

Pelayaran berlanjut lagi ke Medana Bay di Lombok, ke Pantai Lovina di Bali hingga 21 September,

lanjut lagi ke Karimun Jawa pada 23-26 September, ke Kumai (Kalteng) dan Ketapang (Kalbar) pada 2-5 Oktober 2016, dan ke Sukadana (Kalbar) untuk memeriahkan puncak Sail Karimata pada 6-9 Oktober.

Kemudian berlayar lagi ke Sumatera dengan mengunjungi Belitung pada 11-14 Oktober, Penuba dan Benan di Kabupaten Lingga (Kepri) 16-22 Oktober, dan berakhir di Kota Tanjung Pinang (Kepri) pada 24-28 Oktober 2016.

Raymond menambahkan bagi para pelayar asing, pemerintah Indonesia sudah menyediakan visa sosial budaya (social culture visa) dengan masa berlaku 60 hari dan bisa diperpanjang 4 x 30 hari.

"Jadi para yachter bisa berpetualang selama enam bulan di Indonesia," katanya.

Pengurusan izin masuk kapal layar, katanya, juga sangat simpel. Untuk mendapat izin CAIT (clearance approval for Indonesia territory) tinggal klik http://yachters-indonesia.id dan mengisi formulir yang tersedia, para yachter sudah bisa masuk ke Indonesia, dengan proses izin hanya tiga jam, dari proses sebelumnya yang memakan waktu sekitar tiga minggu.

"Ini adalah peraturan paling mudah di dunia. Sekarang tiga jam sudah dapat izinnya. Ke depan malah bisa satu jam. Silakan datang dan berlayar ke Indonesia," kata Raymond.

Biaya pengurusan visanya pun amat murah, sekitar Rp30 ribu atau tak lebih dari tiga dolar Selandia Baru.

Sekarang pun, katanya, sudah ada Peraturan Presiden 105/2015 yang memayungi pengurusan dokumen CIQP (custom, immigration, quarantine, port) di 18 pelabuhan. Kapal layar (yacht) bisa tetap tinggal di Indonesia selama tiga tahun.

Ke-18 pelabuhan itu adalah Sabang (Aceh), Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), Nongsa Point Marina (Batam), Banda Bintan Telani (Bintan), Tanjung Pandan (Belitung), Sunda Kelapa dan Ancol (Jakarta), Tanjung Benoa (Bali), Tenau (Kupang), serta Kumai (Kotawaringin Barat), Tarakan, Nunukan (Bulungan), Bitung, Ambon, Saumlaki (Maluku Barat), Tual (Maluku Tenggara), Sorong, dan Biak.

Andy Anderson menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang sudah membuka diri lewat penyederhanaan aturan tersebut.

Pewarta: Budi Setiawanto
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar