Gilimanuk, Bali (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong Independent Power Producer (IPP) atau perusahaan swasta untuk menggarap proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp).
“Kami laporkan bahwa ini yang pertama adalah kami mendorong IPP. Kalau harganya kompetitif, kami kasih IPP,” ujar Bahlil dalam acara Launching dan Groundbreaking Program PLTS 100 GWp yang berlangsung di Gilimanuk, Bali, Selasa.
Bahlil menyampaikan, apabila harga listrik yang dihasilkan oleh PLTS tidak kompetitif dan tidak ada IPP yang tertarik untuk menggarapnya, maka pemerintah akan mengambil alih proyek tersebut dan melakukan pembiayaan melalui Danantara.
Pembiayaan melalui Danantara, lanjut dia, akan dilakukan sesuai dengan petunjuk dari Presiden Prabowo Subianto yang efisien, efektif, dan terjangkau.
Baca juga: Prabowo targetkan Indonesia stop impor minyak dan LPG dalam tiga tahun
Pemerintah mengumumkan 14 proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 5,3 GWp.
Adapun 14 proyek tersebut terbagi menjadi sejumlah kategori, yakni enam proyek siap tender yang meliputi PLTS Terapung Jatiluhur dengan kapasitas 1.688 MWp, berlokasi di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Kemudian, PLTS Terapung Cirata berkapasitas 1.250 MWp (Waduk Cirata, Purwakarta, Jabar); PLTS Terapung Jatigede berkapasitas 636 MWp (Waduk Jatigede, Sumedang, Jabar); PLTS+BESS Klaster Madura berkapasitas 605 MWp (Sumenep, Jatim) untuk dukung program Fat Burning Madura atau eliminasi BBM di Madura.
Lebih lanjut, PLTS Bali berkapasitas 300 MWp (Gilimanuk, Jembrana, Bali) untuk mengeliminasi penggunaan BBM di Bali; serta PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta berkapasitas 69 MWp (Purwakarta, Jabar).
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.