Banjarbaru (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq selaku Koordinator Penanggulangan Karhutla di Kalimantan Selatan (Kalsel) menyampaikan metodologi perendaman menjadi solusi penanganan karhulta di lahan gambut di wilayah itu.
"Metodologi ini khususnya di dua wilayah utama prioritas penanggulangan karhutla di Banjarbaru, yakni Guntung Damar dan hutan lindung Liang Anggang," kata Hanif di Banjarbaru, Rabu.
Wamenko mengaku sudah mengecek langsung kondisi lahan terbakar di Guntung Damar yang berada di ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor itu.
Baca juga: Wamenko Pangan: Ribuan personel atasi karhutla tiga wilayah di Kalsel
Dia melihat masih banyak sungai yang terbuka sehingga akan ditutup mati agar aliran dari Irigasi Riam Kanan mampu sepenuhnya berfungsi untuk pembasahan lahan.
"Saya juga sudah minta Dinas PU untuk meninggikan tabat atau tinggi dinding tutupan sampai satu meter karena beda tinggi air bendungan sampai di jalan raya satu meter," jelasnya.
Sehingga demikian apabila sudah dilakukan semua langkah itu maka Guntung Damar bisa ditenggelamkan lahan gambutnya agar tak lagi kering yang berpotensi terbakar.
"Pada prinsipnya yang namanya lahan gambut harus selalu basah alias terendam karena jika kering sangat mudah terbakar dan api sulit dipadamkan," ujarnya.
Kemudian untuk di hutan lindung Liang Anggang, Hanif menyatakan telah dilakukan bloking dengan menggunakan ekskavator amfibi dan ekskavator long arm untuk mempercepat proses pembasahan.
Selain itu, juga telah dioperasikan pompa air kapasitas sangat besar yakni 500 liter per jam sehingga penenggelaman lahan gambut bisa semakin cepat.
"Dalam dua atau tiga hari ke depan kita optimis Guntung Damar dan hutan lindung Liang Anggang tuntas, tinggal kita fokus pemadaman di sekitar daerah utama," katanya.
Baca juga: BMKG deteksi 473 titik panas di Kalimantan Selatan
Baca juga: Wamenko: Penanganan karhutla Kalsel harus cepat antisipasi debit air
Pewarta: Firman
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.