Jakarta (ANTARA) - Rontgen dada dahulu menunggu mata manusia. Kini, kecerdasan buatan (AI) dapat menandai bayangan paru yang patut dicurigai sebagai tuberkulosis dalam waktu sangat singkat. Namun, persoalan terbesar Indonesia bukan sekadar seberapa cepat mesin membaca gambar, melainkan seberapa cepat sistem kesehatan mengubah kecurigaan itu menjadi diagnosis, pengobatan, dan pencegahan penularan.
Tuberkulosis (TBC) sering bekerja dalam diam. Karena itu, penanggulangan TBC tidak boleh hanya menunggu pasien datang setelah batuk berkepanjangan atau kondisi memburuk. Sistem kesehatan harus mampu menemukan penyakit sebelum penyakit menemukan lebih banyak korban.
Global Tuberculosis Report 2025 memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TBC dunia pada 2024, terbesar kedua setelah India. WHO sebelumnya memperkirakan sekitar 1,09 juta orang mengalami TBC di Indonesia pada 2023, dengan insidensi sekitar 387-388 kasus per 100.000 penduduk.
Alat baca baru
Di tengah tantangan tersebut, TBScreen.AI menghadirkan kemungkinan baru. Sistem deteksi berbantuan komputer atau computer-aided detection (CAD) berbasis kecerdasan buatan ini dikembangkan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama mitra untuk membantu skrining TBC melalui rontgen dada. Di banyak tempat, mesin rontgen tersedia, tetapi radiolog atau dokter terlatih belum tentu berada di lokasi yang sama.
AI dapat memberi skor kecurigaan radiologis sehingga orang yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dapat diprioritaskan. Skor tersebut bukan persentase kepastian seseorang menderita TBC dan tidak boleh diperlakukan sebagai diagnosis.
Baca juga: CKG deteksi dini TBC di tengah tantangan geografis kepulauan
Dalam hasil yang dilaporkan UGM pada Agustus 2026, TBScreen.AI menunjukkan sensitivitas sekitar 83 persen dan spesifisitas sekitar 87 persen. Temuan awal ini menjanjikan sebagai alat bantu skrining, tetapi validasi eksternal multisenter pada populasi lebih beragam tetap diperlukan sebelum implementasi luas.
Tersembunyi ditemukan
Pengalaman lembaga pemasyarakatan memperlihatkan pentingnya penemuan kasus aktif. Kepadatan hunian, ventilasi tidak ideal, dan faktor kesehatan menjadikan lapas serta rutan berisiko tinggi. Pada 2023, Program Penanggulangan TBC di UPT pemasyarakatan mencatat 6.039 orang terdiagnosis TBC melalui skrining rutin dan berbagai pendekatan penemuan kasus aktif, termasuk rontgen dada.
Pada 2024, ketika penemuan lebih banyak mengandalkan skrining gejala, jumlah kasus terdeteksi jauh lebih rendah. Ketika rontgen kembali diterapkan lebih menyeluruh pada 2025, ditemukan 7.972 kasus TBC.
Angka antar-tahun itu tidak boleh dibaca sebagai perubahan insiden langsung karena cakupan, populasi, dan metode skrining berbeda. Justru di situlah pelajarannya: jumlah kasus yang ditemukan dipengaruhi oleh seberapa aktif dan sensitif sistem mencarinya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.