Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai pasar domestik, yang besar menjadi salah satu daya tarik bagi investasi industri petrokimia nasional.

Oleh karena itu, Heri melihat prospek investasi di sektor petrokimia masih terbuka lebar karena produk turunannya menjadi kebutuhan berbagai sektor manufaktur, termasuk industri makanan dan minuman, kemasan, hingga otomotif.

"Investasi di sektor petrokimia meningkat, peningkatannya cukup besar. Tapi, ketika investasi itu masuk, harus diiringi dengan bagaimana meningkatkan kapasitas produksi. Investasi juga harus didukung ketersediaan bahan mentah, infrastruktur, tenaga kerja yang mumpuni, kemudian pasokan energi yang cukup," kata Heri dalam keterangannya yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Ia menilai penguatan industri petrokimia tidak bisa hanya dilakukan melalui pembangunan fasilitas hilir. Investasi juga perlu diarahkan ke sektor hulu untuk memastikan ketersediaan bahan dasar seperti minyak dan gas bumi.

"Investasinya enggak cukup di petrokimia saja, tapi harus ada investasi di sisi hulunya untuk meningkatkan atau menyuplai migas atau minyak bumi yang lebih tinggi lagi untuk industri-industri selain energi. Jadi investasinya juga harus ada di sisi hulu," tuturnya.

Heri menambahkan pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan pemberian insentif fiskal untuk mendorong pertumbuhan industri petrokimia.

Ia menjelaskan kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri yang besar sebenarnya menjadi peluang bagi pengembangan industri petrokimia nasional.

Namun, ketergantungan terhadap impor membuat biaya produksi industri pengguna rentan terhadap gejolak global.

"Ya, ada beberapa komponen yang kita memang masih bergantung sama impor. Jadi memang untuk jangka pendek masih belum memungkinkan. Seperti nafta, itu sudah ada roadmap-nya sampai kita bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri, cuma perlu investasi yang lebih besar lagi, perlu peningkatan kapasitas produksi yang lebih besar lagi," kata Heri.

Disampaikan dia, upaya substitusi impor tidak hanya membutuhkan pembangunan fasilitas produksi baru, tetapi juga harus memperhatikan keberlangsungan rantai pasok.

"Strategi substitusi impornya itu harus bisa berjalan smooth tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien. Rantai pasoknya pasti berubah, tapi berubahnya itu jangan mengurangi efisiensi. Industri pengguna tentu tidak mau kalau efisiensinya turun. Jadi memang perlu ada investasi besar dulu di situ," ujarnya.

Menurutnya, kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku dapat berdampak pada strategi perusahaan dalam menjaga harga jual produk. Salah satu dampaknya dapat terlihat dari perubahan ukuran atau isi produk untuk mempertahankan daya beli konsumen.

"Kalau biaya produksinya meningkat terus harga jualnya ditingkatkan, risikonya takut enggak laku atau masyarakat beralih. Cara lainnya mereka mengakali dengan volume makanannya atau isinya. Itu kita rasakan sebagai konsekuensi akibat kenaikan biaya produksi, salah satunya plastik," sebut Heri.

Baca juga: Indef nilai penguatan pasar domestik kunci pacu industri petrokimia

Baca juga: INAPLAS ungkap produk impor hingga suplai energi jadi tantangan

Baca juga: Indef dorong diversifikasi bahan baku petrokimia untuk jaga kontribusi

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.