Jombang (ANTARA) - Lembar-lembar kertas tua itu tampak rapuh. Sebagian tepinya mulai menguning, beberapa bagian berlubang, sementara debu yang menempel menjadi tanda bahwa benda tersebut telah melewati perjalanan panjang.

Bagi Ustaz Adi Ivanto, lembaran-lembaran itu bukan sekadar kertas tua yang menunggu lapuk. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, catatan kehidupan, dan jejak peradaban masyarakat Nusantara yang belum tentu dapat ditemukan dalam buku-buku sejarah modern.

Ustaz Adi merupakan Kepala Divisi Preservasi dan Konservasi Nahdlatul Turots, organisasi yang bergerak dalam pelestarian karya dan manuskrip ulama Nusantara. Kecintaannya terhadap manuskrip membuatnya rela mempelajari teknik perawatan secara mandiri, kemudian membagikan pengetahuannya kepada masyarakat dan generasi muda.

Bagi dia, pada prinsipnya melakukan perawatan dan pemuliaan terhadap manuskrip itu bukan suatu beban, melainkan kehormatan sebab ikut menjaga bentuk fisik dari berbagai manuskrip, sekaligus menjaga isinya, sehingga bisa dijadikan bukti sejarah bagi generasi mendatang.

Satu kitab juga tidak langsung diperlakukan sebagai benda yang harus diperbaiki. Kondisinya terlebih dahulu diperiksa untuk menentukan tindakan yang tepat. Sebab, setiap manuskrip memiliki tingkat kerusakan dan karakter bahan yang berbeda.

Tahap pertama adalah membersihkan manuskrip dari debu dan kotoran. Setelah itu, kondisi kertas diperiksa, termasuk tingkat keasamannya. Jika kertas terlalu asam, dilakukan deasidifikasi, yaitu proses pengurangan atau penetralan kadar keasaman (pH), sehingga proses kerusakan dapat diperlambat.

Bagian kertas yang berlubang dapat ditambal melalui teknik mending (perbaikan yang terlihat). Apabila diperlukan, manuskrip juga dapat dilaminasi menggunakan kertas arsip khusus berbahan serat murbei atau kozo dari Jepang.

Teknik tersebut berbeda dengan laminasi menggunakan plastik yang umum dikenal masyarakat.

Penggunaan plastik justru dapat menyulitkan proses pemulihan ketika lapisan tersebut mengalami kerusakan.

"Kalau kami melakukan laminasi kertas dengan kertas untuk pemulihan kembali masih bisa dilakukan. Teknologi tradisional Jepang ini memang belum sepenuhnya bisa kita produksi dengan standar yang sama," kata Adi Ivanto, saat ditemui ANTARA di Klinik Turots pada rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8).


Digitalisasi manuskrip

Pekerjaan merawat manuskrip yang dilakukan Adi Ivanto memang tidak sederhana. Bahkan, dari ribuan judul yang telah didigitalkan, jumlah yang dapat dipreservasi secara fisik masih sangat terbatas.

Sejak terbentuk pada 2020, Nahdlatul Turots telah mendigitalkan lebih dari 2.000 judul manuskrip. Sementara manuskrip yang telah melalui proses preservasi fisik belum mencapai lima persen.

Keterbatasan biaya, bahan, teknologi, dan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri.

Adi menyadari pelestarian manuskrip tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu organisasi.
Sehingga dari kondisi itu perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan itu menjadi bagian penting dalam gerakan pelestarian manuskrip.

Lembaga itu juga terus berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mengetahui bagaimana memperlakukan kitab atau manuskrip yang mereka miliki.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Klinik Turots. Masyarakat dapat berkonsultasi mengenai kondisi manuskrip, termasuk ketika menemukan kitab warisan keluarga atau peninggalan seorang kiai yang telah mengalami kerusakan.

Tidak jarang turots (manuskrip) yang datang dalam kondisi sudah sangat rapuh. Dengan kemampuan yang ada, tim berupaya membersihkan, memperbaiki, hingga menjilid kembali kitab tersebut agar dapat dibaca tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Upaya tersebut juga menyasar generasi muda. Sejumlah mahasiswa dilibatkan untuk mengenal lebih dekat manuskrip, sekaligus memahami bahwa benda yang tampak tua dan tidak menarik itu sesungguhnya menyimpan kekayaan pengetahuan.

Ketertarikan generasi muda terhadap manuskrip biasanya tumbuh setelah mereka mengenal isinya. Sebab, manuskrip Nusantara ternyata tidak hanya berbicara tentang agama.

Di dalam manuskrip dapat ditemukan catatan peristiwa, resep masakan, pengetahuan pengobatan, ilmu sosial, politik, matematika, hingga pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu kimia.

Para ulama Nusantara pada masa lalu juga tidak hanya berperan sebagai guru agama. Mereka menjadi imam, guru, tokoh masyarakat, bahkan pemimpin yang menjadi tempat masyarakat menyampaikan berbagai persoalan.

Karya-karya mereka, bahkan melampaui batas wilayah Nusantara. Sejumlah karya ulama Indonesia dikenal dan dipelajari dalam tradisi keilmuan Islam di Timur Tengah.

Sejumlah nama, seperti Syekh Yasin Al-Fadani (ulama besar asal Padang, Sumatera Barat, yang dijuluki Musnid ad-Dunya (pakar sanad dunia) dan Syekh Nawawi Al-Bantani (ulama Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di dunia internasional) menjadi bagian dari jejak panjang tersebut. Karya ulama Nusantara digunakan dalam pembelajaran di sejumlah lembaga pendidikan Islam di luar negeri.

Jejak itu membuat Adi Ivanto semakin yakin bahwa manuskrip bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia merupakan bukti bahwa Nusantara memiliki tradisi intelektual yang panjang.

Terlebih pada era kecerdasan buatan (AI), ketika sebuah tulisan dapat dibuat kembali hanya dengan perintah dalam hitungan detik. Namun, Adi menegaskan keberadaan manuskrip asli menjadi semakin penting.

Digitalisasi memang memungkinkan isi manuskrip disimpan dan disebarluaskan. Namun, salinan digital tidak sepenuhnya menggantikan keberadaan benda aslinya.

Ketika zaman AI seperti sekarang, kalau kita menunjukkan hasil digitalnya, orang bisa mengatakan AI juga bisa membuat, tetapi ketika kita bisa menjaga keberadaan kitab-kitab tersebut, ada bukti fisiknya.

Karena itu, manuskrip yang berada di luar negeri juga menjadi perhatian.

Adi menyebut masih banyak manuskrip Nusantara yang tersimpan di berbagai negara dan belum kembali ke Indonesia.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberadaan fisik manuskrip, tetapi juga kemampuan Indonesia dalam merawat dan mengembangkan literasi masyarakat terhadap warisan tersebut.

Di dalam manuskrip terdapat pula pengetahuan lama yang saat ini mulai sulit ditemukan.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.