Palembang, Sumsel (ANTARA) - Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai dioperasikan untuk mengatasi masalah persampahan, Selasa.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa di Palembang, Sumsel, Selasa, menyampaikan PSEL Palembang merupakan salah satu proyek percontohan, yang masuk proyek strategis nasional (PSN).

"PSEL Palembang bukan sekadar fasilitas pengolahan sampah. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat," katanya.

Pemkot Palembang mengawali pengiriman sampah perdana dari sejumlah wilayah di Kota Palembang menuju fasilitas PSEL, yang menandai dimulainya penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus membuka jalan menuju pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

Menurutnya, dimulainya pengiriman sampah ke fasilitas PSEL ini menjadi tonggak penting bagi Kota Palembang dalam menangani persoalan sampah secara lebih modern dan berkelanjutan.

"Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari," ujar Ratu Dewa.

Dia menjelaskan dalam prosesnya, sampah yang telah dikirim ke fasilitas PSEL akan menjalani tahapan pengolahan sebelum memasuki proses pembakaran awal.

Material sampah terlebih dahulu difermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari untuk mempersiapkan proses selanjutnya hingga menghasilkan energi listrik.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari sistem pengolahan yang dirancang untuk mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi yang memiliki nilai manfaat.

Baca juga: Pemkot Palembang percepat pembangunan PSEL

Baca juga: Wapres beri arahan pembangunan PSEL di Palembang Sumsel

Baca juga: Danantara cek kesiapan proyek PSEL Palembang

Pewarta: Edo Purmana
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.