cerita kelas bahasa Indonesia dan Gamelan Dananda membuktikan bahwa hubungan Indonesia-Australia tidak melulu soal diplomasi resmi antarnegara
Jakarta (ANTARA) - Kasenya Grant adalah seorang guru yang mengajar bahasa Indonesia di Brunswick North West Primary School selama 11 tahun setelah sebelumnya mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Perjalanan Kasenya dengan bahasa Indonesia bermula 30 tahun yang lalu ketika dia mengajar di sebuah SMA di Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat itu, dia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia dan harus belajar dari buku maupun dari murid-muridnya sendiri.
Kasenya mengaku justru paling banyak belajar dari anak-anak di Flores, karena mereka tidak segan mengoreksi kesalahannya dan tidak mempermalukannya saat dia salah mengucapkan sesuatu. Dua tahun mengajar di Flores telah membentuk fondasi bahasa Kasenya hingga kini.
Setelah kembali ke Australia, Kasenya sempat lama tidak menggunakan bahasa Indonesia karena tidak ada kesempatan. Namun, kerinduannya pada bahasa itu tumbuh kembali hingga akhirnya dia mendapat kesempatan belajar ulang lewat program pemerintah.
Sekarang di kelasnya, murid-murid yang sebagian besar bukan keturunan Indonesia justru sangat antusias. Kasenya menyebutkan bahwa mereka paling menyukai pelajaran tentang budaya, terutama makanan seperti nasi kuning dan pengalaman makan langsung menggunakan tangan.
Menurut Kasenya, murid-muridnya senang membandingkan kebiasaan makan keluarga mereka sendiri dengan kebiasaan makan di Indonesia. Melalui perbandingan tersebut, mereka belajar bahwa setiap budaya memiliki aturan sopan santunnya masing-masing meski caranya berbeda-beda.
Kasenya pun berharap agar murid-muridnya memahami satu pelajaran penting, yaitu ketika bertemu budaya baru, sebaiknya mengamati dulu sebelum menilai. Menurut dia, sikap itu sama pentingnya dengan penguasaan kosakata bahasa Indonesia itu sendiri.
Sayangnya, tantangan tetap ada. Kasenya hanya mengajar satu jam seminggu, dan jadwal itu sering terganggu oleh hari olahraga atau ekskursi sekolah, sehingga dalam setahun murid-muridnya hanya mendapat sekitar 32 pertemuan.
Musik sebagai pintu masuk
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.