Teheran (ANTARA) - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Selasa (1/9) mengatakan bahwa Teheran tidak memandang Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah antara Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan sebagai sebuah ancaman.

Saat menanggapi pertanyaan dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Baghaei berkata, "Kami tidak melihat alasan untuk menganggap perjanjian antara tiga negara Muslim, yang telah berulang kali diancam oleh Israel secara langsung maupun tidak langsung, sebagai ancaman terhadap kami."

"Negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat mengandalkan janji Amerika Serikat untuk menjamin keamanan mereka, karena perhatian utama Washington adalah melindungi kepentingan Israel," kata Baghaei.

"Dan bahwa mereka harus mengandalkan kerja sama serta membangun kepercayaan di antara mereka sendiri untuk menjamin keamanan," ujar dia.

"Dalam kerangka kerja ini, Republik Islam Iran telah melakukan pembicaraan dengan negara-negara tersebut. Turkiye juga merupakan negara tetangga yang sangat penting dan memiliki hubungan baik dengan kami, dan kami tentu akan melanjutkan konsultasi di semua bidang," tutur Baghaei.

Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah (Makkah Joint Defense Agreement) ditandatangani pada 7 Agustus di Kota Makkah, Arab Saudi, oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif.

Perjanjian tersebut bertujuan untuk memperkuat penangkalan kolektif di antara ketiga negara tersebut di tengah meningkatnya ketidakstabilan regional dan global.

Perjanjian itu menetapkan bahwa setiap serangan terhadap satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.